Masjid Al-Ikhlas

Gus Baha': Menghargai Perbedaan, Tidak Merasa Paling Mulia

Sudah ya, saya jelaskan. Ini masalah rububiyah (tentang ketuhanan)
Jadi kita harus yakin ainul yaqin bahwa orang Kristen juga menyembah tuhan, orang Yahudi juga menyembah tuhan, orang apapun menyembah tuhan. Dan tiap makna menyembah itu pasti secara simbolis ada tempatnya. Misalnya ada yang menyebut tempatnya sinagog, gereja, atau apalagi ya, ada Pagoda, atau yang lain lagi pokoknya semua itu ada tempat ibadah.

Lalu Allah ngendikan, ini biasanya dipakai dalil-dalil orang yang agak sekuler, Allah itu akan menolak satu kekuatan dengan kekuatan yang lain untuk membuat keseimbangan. Seumpama tidak ada itu, justru sistem ibadah kocar-kacir. 
Variasi tutup kepala di Masjidil Haram
Variasi tutup kepala di Masjidil Haram

Jadi kalau ayat yang umum kan:
وَلَوْلاَ دَفْعُ اللّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الأَرْضُ
Makanya ngaji ini dengarkan sungguh-sungguh, ya.
Jadi konflik itu menciptakan keberkahan. Yang agak tidak barokah itu kalau sampai saling bunuh-membunuh bi ghairi haqqin. Tapi kalau bertengkar, itu barokah. Yang nggak cocok, itu juga barokah.

Analogi:

Karena misalnya begini ya, andaikan semua toko itu sepakat untuk membuat harga tinggi semua, maka korbannya adalah konsumen. Berhubung toko terjadi ketidaksepakatan harga, saling bersaing harga, akhirnya banyak yang banting harga. Ada yang banting harga, akhirnya saling mengunggulkan kualitas. Karena persaingan-persaingan itu, itu akhirnya yang enak adalah konsumen. 😆
Begitu juga menyangkut sistem sosial, misalnya banyak partai politik, yang enak juga konsumen. Apalagi jika jadi kyai, saat petinggi parpol sowan, untung jadinya. Kalau calegnya hanya satu, ya hanya dapat satu. Kalau caleg yang bersaing banyak? Kyai dapat banyak. 😆
Masyarakat cuma dapat amplop satu kalau calegnya satu, kalau caleg empat amplop empat. Tapi nanti ya risikonya dosanya mengibuli empat orang.  😂
Paham ya.
Tapi intinya variasi dalam sistem sosial itu baik. 

TIDAK ADA BANGSA TERHORMAT, KECUALI DIINGATKAN MEREKA BUTUH BANGSA TIDAK TERHORMAT

Malah saya pernah meneliti tentang sunatullah.
Tidak ada bangsa terhormat kecuali (mereka) oleh Allah diingatkan (bahwa mereka) butuh bangsa yang tidak terhormat (meski dalam pandangan manusia).
Ketika Rasulullah SAW mendidik orang Mekkah supaya sopan, karena mereka waktu itu sudah mulai (sudah agak2 bener) bangga dengan bapak tauhid Nabi Ibrahim, Bangsa Arab itu diingatkan:
“Kalian itu berperilaku dengan budak yang baik. Karena ibu kalian itu seorang budak.”
Karena (kita tahu) Nabi Ibrahim itu mendapat siti Hajar (seorang amat).

Lha yang begitu itu ndilalah keturutan,  zaman Rasulullah itu di antara istri beliau yang sembilan, yang memiliki putra justru malah yang Mariyah Qibtiyah (yang juga hadiah dari raja Mesir).

Jadi, begitulah Allah (sunatullah). Kadang orang mulia, entah anak presiden, anak kyai besar, entah anak pejabat di kota besar, eh ternyata sepele sekali pilihannya malah perawan kampung dari atas gunung, tidak tahu dia anak penjual mie atau penjual sabun.  😂 😂

Itulah Allah. Kau anggap itu sebagai kelemahan/kekurangan juga tidak bisa. Memang sistem sosial akan diatur sedemikian rupa.

Bayangkan, para presiden yang pongahnya demikian itu mereka membutuhkan suara dari orang jelata seperti Rukhin. Jika tidak dapat suara kita, mereka juga nggak akan jadi presiden.  😂 😂
Saat musim caleg, para pimpinan partai butuh kyai zuhud, katanya doanya mustajab. Nanti kyai zuhud pas waktunya membangun musholla butuh proposal (yang diajukan ke mereka).  😂

Lha itu sudah Allah. Jadi tidak bisa kalian weleh (anggap sesuatu itu pasti mulia atau benar, atau sebaliknya yang lain hina atau keliru). Ya biarkan, itulah kehendak Allah. Oleh karena itu di sebagian ayat malah lebih jelas sindiran Allah:
وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا
Sukhriyya itu maknanya olok-olokan (ejekan), tidak hanya mengatur, tapi ejekan.

Manusia memang tempatnya olok-olok/bahan tertawaan. Misalnya: presiden atau menteri itu orang terhormat, membuka pintu saja ibaratnya tidak mau. Tapi jika kau teliti, pongahnya seperti itu kok makan uang orang-orang seperti kita, karena mereka digaji dari uang rakyat. 🤣

Tapi kalau rakyat kau anggap lebih terhormat daripada menteri atau presiden kok apa-apa kesulitan, apa-apa harus mengusahakan sendiri. Ruwet. 😆

Begitu juga orang2 sombong yang jadi pejabat kadang dicoba Allah kecantol orang2 desa, begitu juga kyai, orang sholeh.😆

Makanya sukhriyya itu maknanya ejek-ejekan, bukan sekadar pengaturan, tapi bahan tertawaan.
Kalian saya ceritai, di antara pertimbangan Boeing bikin pesawat banyak, yang dihitung di antaranya adalah haji. Jadi tidak ada transaksi penerbangan besar-besaran seperti pada sistem haji. Jadi kalian tidak usah berkecil hati orang Islam naik haji butuh pesawat buatan orang Amerika Serikat, karena ketika kau sedang kecil hati demikian ternyata orang AS tidak bisa membayangkan larisnya pesawat tanpa umrah tanpa haji. Lha sekarang yang lebih butuh siapa, coba? Yang haji butuh pesawat, yang operasional pesawat juga butuh konsumen yang rupa2nya terbanyak dari haji. 😆

Kau tidak bisa protes. Ya begitulah kehendak Allah. Jadi ketika tidak ada sistem saling membutuhkan, saling salah paham, itu malah dunia berhenti.
Makanya orang itu, meskipun benarlah, kata Rabbiah adawiyah, harus istighfar. Imam Ghozaliy mencontohkan itu sederhana begini:
Adanya pekerjaan kepolisian dan kehakiman, itu berkahnya ada konflik. Jika tidak ada maling, tidak akan ada polisi. Jika tidak ada konflik, tidak akan ada hakim. Jadi lembaga2 terhormat, itu berkahnya hal-hal yang tidak benar.

Makanya kalau sok benar itu keliru. Makanya para pejabat jadi kualat kadang lembaga2 mereka yang terhormat itu berasal dari hal-hal yang tidak benar. Itulah Allah.
Pekerjaan polisi dibuat karena banyak kriminalitas. Berarti polisi lahir dari kriminalitas.
Ada pekerjaan tentara karena ada konflik antarnegara, satu negara berisiko diserang negara lain.
Ada gaji PNS, tentara, polisi, berasal dari hal2 spt itu.
Suha kadza Pangeran? Makanya jangan gemar menentang kehendak Allah. Yang Memiliki sudah berkehendak begitu kok mau kau atur2.
Karena itu kalau mendapat gaji istighfar, karena itu berasal dari sebab yang salah.

Kau lanjutkan juga boleh, Khin. Kyai/guru dapat amplop/gaji karena adanya orang bodoh. seandainya di dunia ini pintar semua, tidak akan ada amplop ke kyai. Makanya klo kyai waras, saat disalam templek akan istighfar karena agak musibah. Paham ya
Makanya saya itu agak syukur, jadi kyai yang agak nggak dapat salam templek. gak terlalu musibah. Makanya kau tidak perlu jadi orang yang terlalu alim tahqiq, karena ketika mendapat salam templek akan merasakan hisabnya .
Itulah Allah. Jadi Allah itu membuat manusia:
وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا
Sukhriyya itu tempat bahan tertawaan. Lha iya kan. Kalian sekarang jadi kyai hafal al-Quran, larisnya juga karena ada orang kaya. Jadi bisa kalian bilang penghapal Al-Quran butuh orang kaya. Nanti orang kaya ndilalah juga ditakdirkan butuh kyai penghapal beneran, entah dipakai jimat, entah dipakai tabarruk, pokoknya ditakdir butuh.
Pejabat juga begitu, tiap kali ingin menjabat sowan kyai. Tapi kyai bangga juga tidak bisa. Wong dia yang membutuhkan pejabat itu. Bergiliran saja: Setelah dibutuhkan, selanjutnya membutuhkan. Setelah dibutuhkan, selanjutnya membutuhkan. Begitu seterusnya.
Seumpama tanpa itu, jadinya dunia hancur. Itulah Allah. Jadi
لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُ
Makanya zaman Rasulullah SAW sugeng, ketika memberi contoh itu:
“Kau dengan pembantu itu bagus mana? Kata beliau SAW, seumpama tidak ada pembantu, kau juga tidak akan bisa melakukan pekerjaanmu. Cuma dia ditakdirkan Allah menjadi pembantu.”

SEDEKAH YANG PASTI DITERIMA


Makanya saya pernah membaca di hadits, syarat shadaqah diterima Allah itu ada satu yang pasti diterima, jika kamu bisa melakukan, yaitu kau tidak merasa memberi orang itu sebagaimana butuhnya orang itu kepadamu. Jadi sama rasanya. Begitu pula mengajar dan dakwah.

Misalnya:
Saya sedekah ke Rukhin 100ribu. Siapa yang lebih butuh coba?
Rukhin butuh uang karena melarat. Ok, ia butuh uang karena melarat.
Saya juga butuh ganjaran sedekah. Itu artinya butuh orang yang bisa menerima.

Jadi setiap kali kalian shadaqah, otomatis juga merasakan membutuhkan orang yang disedekahi. Yaitu sedekah itu diterima Allah menunggu hingga ada yang menerima sedekahnya.

Jadi kalian jangan ada perasaan memberi. Kalau kalian punya perasaan memberi, jadinya nanti otoriter, merasa sok, rentan mengungkit-ungkit, rentan sok berjasa. Padahal sesungguhnya kalian juga membutuhkan.

Apalagi setelah ada sistem perbankan sekarang malah bisa dibikin analogi sedekah itu tidak ada gunanya (manfaat ke orang). Kita simpan uang di bank 1 m, (bank butuh kita nasabah menyimpan, kita butuh bank agar uang kita aman). saat diambil tetap utuh 1 m. Lha orang shadaqah itu klau mengungkit-ungkit sungguh lucu. Goblok benar. Tidak goblok bagaimana, dia bersedekah kan bilang berharap akan dibalas di akhirat. Itu kan cuma seperti menaruh uang di bank, kelak akan kau ambil lagi. Sedekah 1 jt ke Rukhin, anggap saja kalian ambil lagi di akhirat, cuma kalian titipkan Rukhin. Ya sudah begitu, berarti kan tidak ada, faktor amal ke orang lain kan tidak ada karena kamu yakin itu akan kamu ambil lagi di akhirat. Shadaqah yang kelasnya sudah begini kemungkinan dibatalkan bil manni wal adza itu kecil.

Sama seperti mengajar dan dakwah. Saya mengajar, niat dapat surga. Ya sudah selesai. Tapi kalau saya merasa berjasa: ingin dihormati, disukai, tersinggung, macam2, ruwet. Saya tidak sejenis itu. Paham ya. Naudzubillah. Mengajar seperti itu kampungan. Ruwet. Jadinya bento.
Makanya dilatih ya, ilmu hakekat itu dilatih. Nanti lama-kelamaan baik.

Kalian mengaji juga begitu. Tidak usah merasa macam-macam, ngaji ya ngaji. Ditulis Allah ya sudah. Paham ya. Ini asli dasar hukum.

Lalu Allah ngendikan: Allah saat membuat kesalahan, itu akan barokah.
Artis yang cantik2, dapat uangnya dari iklan shampo. Adanya shampo, barokahnya kutu dan ketombe. Seandainya tidak ada ketombe dan kutu, tidak akan ada perusahaan shampo jadi kaya raya, tidak ada karyawan dapat makan. Lha iya, kaya rayanya dan cantiknya demikian pongah, ternyata rezekinya hanya dari kutu dan ketombe.
Itulah Allah. Manusia hanya tontonan. Kau tidak boleh protes. 😆

Jadi ngendikane Nabi SAW: orang kalau merasa terlalu mulia, harus ingat, hampir semua asbaburrizqi itu dari masalah2 kesalahan. Itu sebagai Allah mengejek manusia bahwa manusia itu cuma sedemikian saja.
Sayyidina Ali mencontohkan betapa hinanya manusia itu ketika shalat. Disyaratkan tidak boleh ada najis, kena tahi ayam dibersihkan, pakaian kotor dicuci. Tapi ternyata ada tontonan yang naif, yaitu tiap manusia (shalat) pasti membawa isi perutnya, yang ada tahinya. Jadi orang ke mana-mana itu bawa WC. Kalau kita ingat yang demikian itu lalu di mana kemuliaan kita? Sudah menyebut wajib suci tapi sepele ternyata tetap membawa WC. Itulah Allah.

Jadi manusia ketika merasa mulia, pongah, sombong, kumoluhur, disuruh: ma fi ma iddatika
Sayyidina Ali mengingatkan yang kau bawa itu apa? Maksudnya kotoran yang dibawa ke mana-mana.

Jadi ingat2 ya. Ini ngaji supaya tahu bahawa konflik2 itu asal tidak sampai maksiat, seperti hingga saling bunuh, itu baik, karen tatanan sosial itu bergantung pada perbedaan.

Saya pernah membaca riwayat di sebuah kitab. Saya yakin hadits ini tidak dhaif.
la tazaalu ummati fi khairin maa tabaayanu
Umatku ini akan selalu baik, kalau mereka itu beda. Kalau mereka itu mau beda.

 Tapi jangan dipaksakan beda lho. Tapi kalau mereka sepakat, malah tidak baik.
Karena dalam bnayak kebaikan ini butuh orang macam2. Misalnya jika semua i’tikaf di masjid, gak adaa yang di perempatan. Terus yang menolong orang kecelakaan siapa? Jika ada orang tersasar yang ditanya siapa? Terus keluarga yang sakit di rumah yang mengurusi siapa? Tapi jika semua di rumah, yang mengurus masjid siapa?
...
Paham ya. Jadi sekarang mulai menerima perbedaan-perbedaan.Seumpamamanusia tidak saling berbeda, malah sistem ibadah hancur:
لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُ
Itu sudah kehendak Allah.

***
Sepenggal Pengajian Gus Baha'
nanti Lanjut AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR 
(supaya tidak jadi EKSTREMIS, tapi juga tidak jadi PEMALAS)

Gus Baha': Panduan Sikap sebagai Kyai dan Sikap sebagai Umatnya

PENTINGNYA KYAI MENGAJI DI DEPAN UMUM

Saya tadi sudah istifadah dengan Gus Ghofur, (tentang bahwa) memang menyampaikan ilmu di depan umum itu penting, supaya tidak ada alqila wal qol. Jadi ini diulang-ulang bi hadhrati ashhabi, yg dalam ilmuhadits itu penting sekali supaya ilmu itu mutawatir.
Kalau mengijazahi orang tertentu, hanya Anda saja  yang diijazahi, itu rentan mengibuli.😆
Sama seperti pedagang yang bilang, "Hanya sampeyan yang saya kasih diskon."
Padahal semua juga dia bilang diberi diskon. 😂
Seorang kyai yang mengijazahi di depan umum, dia akan terkenal. Tapi yang mengijazahi khusus, itu bahaya. Pasti klenik.😆😆
Makanya saya itu pede ngaji di depan umum, karena jika keliru ya langsung dibenarkan Gus Ghofur, kalau benar ya ganjaran (berkah)nya banyak.
Tapi kalau ngaji hanya berduaan, itu kaya orang kolusi: "Nanti kalau keliru jangan bilang-bilang ya." 😂

Gus Baha ger-geran dengan Gus Reza, Gus Kautsar, dan Gus Ali Mashuri
Gus Baha ger-geran dengan Gus Reza, Gus Kautsar, dan Gus Ali Mashuri

Jadi saya itu suka ilmu yang mutawatir karena validitasnya jelas. Makanya dulu, hadits itu dikaji. Tidak mutawatir artinya tidak mutu. Hadits yang
 في الرتبةالعليا
tentu yang mutawatir, dikatakan  bihadhrati ashhabi atau ketika Nabi SAW berkhutbah. Apalagi pidato Nabi SAW di haji Wada'.
Sehingga hadits ahad itu banyak yang masalah, karena kalaupun shahih ada subyektivitas perawi. Jadi kata kunci bi hadhrati ashhabi ini penting.

BAGAIMANA KYAI & UMATNYA BERSIKAP

Nggak semua pertanyaan itu harus ditujukan pada kyai. Sekarang orang itu salah alamat, bertanya pada kyai tentang segala hal. Setiap memiliki uneg-uneg segala hal yang janggal, ditanyakan kyai. Padahal tidak harus ditanyakan. Itu karena kebiasaan manusia sering menuntut orang lain menjadi solusi bagi masalah pribadinya. Itu problem orang kota, sering membebankan masalah yang dihadapinya pada negara, pada kyai, padahal masalah itu adalah sebagai hukuman kesalahannya sendiri.

Saya masih ingat betul ketika kasus AIDS, Mbah Moen, orang yang sangat syafiq li ummatih, agak marah, baru kali pertama itu saya lihat beliau marah, yaitu ketika datang seorang dokter peneliti yang sangat tertantang mengobati AIDS. Mbah Moen tidak menjawab, tapi setelah dokter itu pulang beliau ngendikan begini: "Allah SWT itu kadang menghendaki semua itu ada sanksinya, tujuannya supaya manusia bertobat kembali ke Allah. Ada orang hidup ngawur, akhirnya punya banyak utang, itu sanksi supaya hidupnya baik."
Intinya Mbah Moen itu mau menyampaikan bahwa kesalahan itu ada sanksinya supaya orang bertobat. Tapi sekarang ini, setiap kyai ditanyai seperti itu malah berusaha mencari solusi, padahal Allah ingin memberi sanksi. Itu banyak kasus seperti sampeyan yang saat mondok malas belajar, lalu sekarang mau jadi kyai bingung lalu minta saya, "Gus, kasih saya ilmu laduni." 😂😂

Padahal itu sanksi bagi sampeyan karena ketika mondok tidak rajin belajar. Sampeyan biar tahu rasanya malu membaca/berdalil keliru di depan umum.Kok malah minta ijazah laduni. Padahal mintanya  ke kyai yang sekolah saja pernah tidak naik kelas.🤣🤣

Ada orang istrinya purik pulang ke rumah ortangtuanya, kok dia malah datang ke kyai, minta cara agar istrinya kembali pulang. Padahal sudah lama dia nggak menafkahi istrinya. Ini malah minta doa puter giling, supaya istrinya balik pulang. 🤣🤣

 Ya saya jawab, "Yang wajar istrimu itu seharusnya minggat sudah lama. Berarti istrimu orang pandai, ngerti kamu nggak bisa  menafkahi, akhirnya dia pulang ikut orang tua. 😆😆
Kok malah cari akik pengasihan hanya ingin istri merasa senang walau tidak dicukupi nafkahnya. 😂😂

Jadi itu pelajaran bagi saya, kata Mbah Moen la'alahum yarjiun, la'alahum yantahun bahwa setiap kesalahan itu Allah menghendaki ada sanksinya,tapi maksud Allah baik supaya tobat. Tapi sekarang sanksi itu mau direkayasa dihilangkan, kadang konsultannya itu kyai. 😆😆

Mbah Moen cerita, akhirnya ada seoarang kyai yang lupa. Dia dimintai ijazah doa supaya kaya oleh santrinya. Karena malu mau bilang tidak bisa, kyai itu memberi ijazah juga berupa dhuha dan doa. Kyai itu lupa kalau dirinya sendiri melarat. 😆😆
Si santri dipanggil oleh Mbah Moen, "Kau minta ijazah sama siapa?"
"Sama kyai saya."
"Sini kuijazahi. Minta ijazah doa kaya itu pada yang kaya. Lha kyai itu sendiri faqir kok kau minta ijazahi." 😆😆

Gara-gara memaksakan diri setiap pertanyaan bisa menjawab, kyai akhirnya lupa daratan.
Seorang santri kepala memberi ijazah doa mahabbah, tidak sadar dirinya sendiri perjaka tua.😂😂

Jadi intinya ya kalau (kyai) itu nggak bisa, ya bilang saja tidak bisa. Jangan sampai lupa daratan. Itulah problem yang kita hadapi. Saat ada masalah, yang terjadi akhirnya malah tambah gaduh karena semua  orang memaksa diri untuk menjawab (padahal kadang sok tahu). 

Pokoknya paling mudah kalau ditanyai, jawabnya adalah: wallahu a'lam. Meski nanti juga akan dijawab, "Sudah dari dulu, Mbah." 😂

***
Keterangan: istilah "puter giling" itu saya tambahi sendiri 😂
Sepenggal pengajian Gus Baha' dalam acara Ngaji
Kitab Hadits Arbain lil Ajuri yang diselenggarakan oleh HIMMA Pekalongan (Himpunan Mutakharrijin Mutakharrijat Al-Anwar) di PP Hidayatusyibyan (asuhan Kyai Munib), Pesantunan, Kedungwuni, Pekalongan
Kamis malam Jumat, 2 Januari 2020
Kredit foto:  Progresive TV
https://www.youtube.com/channel/UC7Rs_KE-_jI55Cdp9cStvMg

Gus Baha': Al A’radu Al Basyariyah (Tauhid Ikhlas)

PROLOG

Beberapa waktu lalu saya mendengar hubungan antara tauhid dan ikhlas sekilas dari Kyai Sahiron Syamsuddin dan saya masih agak bingung. Alhamdulillah, berkah ikhlas menakdirkan saya sore ini mendengarkan kunci tauhid itu dari Gus Baha'. 
Beliau juga menjawab tuntas kesedihan saya atas fitnah yg menimpa umat Islam yg berlebihan hingga ada yg mengafirkan sesama muslim belakangan ini (kasus Banser Jakarta). Yang bikin saya tertawa, persis di situ Gus Baha' menyifati Kanjeng Nabi dgn kata sifat yg lebih parah. ☺
Kalau saya sendiri nggak khawatir, ttg para kyai difitnah, krn sudah ada yang menjaga beliau2 di bumi dan langit 🤣
Di situ pula, Gus Baha' menjelaskan secara detail bagaimana memposisikan diri hubungan antara kyai dan umatnya, bagaimana jika seorang kyai keliru dan bagaimana umatnya bersikap. 

***
Gus Baha' naik kendaraan umum bus.
Gus Baha' naik kendaraan umum bus.

Al A’RADU AL BASYARIYAH 
الاعراض البشرية


Senengane kalian kok memandang dari sudut yang sempit? Mbok urip iku sing jembar dhadhane. Senengane kok repot. Nggawe kategorisasi kok repot. Setan, itu pikiran setan. Karena ciri kebenaran itu  يَشْرَحْ صَدْرَهٗ , insyirotus shadri.
Dada itu enak, lega, nyaman.
Ciri kebatilan itu
يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤ
Rupeg, tidak nyaman.

Ini penting saya utarakan ya.
Agar lega, anggap semua itu latihan ikhlas menerima takdir.
Misalnya seperti saya ini kyai ya latihan. Ngiyaeni wong ra jelas juga latihan, ngga dapat untung kok mau, itu latihan ikhlas, sudah selesai. Saya jadi kyai ini saya anggap sudah sukses: asal cara kita ngyai itu menjaga institusi tauhid, pasti kita benar.

Sampeyan saya ceritai ya, Nabi Muhammad itu saking inginnya kelihatan manusiawinya, pernah satu kejadian di hadits shahih. Suatu kali beliau saw saat mengingatkan akhirat, itu luar biasa dramatis, sangat dramatis hingga shahabat yang pulang saat ngeloni bojo akhirnya nggak ngeloni, saat makan nggak makan.
Malah pada sumpah:
والله لا أتزوج النساء
Ah, dunia hanya sementara. Nanti hisabku penuh, Sudah aku tidak usah pakai menikah.

Ada shahabat yang sumpah:
والله لا آكل لحماً
Sudah nggak usah makan daging. Bikin syahwat saja. Jadi nabrak2.


والله لأقومن الليل ولأصومن النهار
Aku malam akan tahajud full, siang puasa full. Yang bikin lupa Allah ya tidur itu. Tidur itu kriminal.

Itu berlaku hingga beberapa hari. Lama-kelamaan Nabi SAW sendiri yang bingung 😂 biasanya masjid ramai, jadi sepi karena pada sibuk ibadah di rumah. Nabi juga mendapat laporan, para istri terlantar karena para suami sibuk ibadah.

Akhirnya mereka dipanggil kembali oleh Nabi SAW. Beliau ngendikan juga pede. Ciri utama tokoh ngendikan gamang itu nggak boleh. Tokoh harus pede. 
Nabi dhawuh:
والله إني لأخشاكم لله وأعلمكم بالله وَأَتۡقَاكُمۡ لله
Hingga tiga kali.
Orang yang paling tahu Allah itu saya, karena saya nabi. Paling takut Allah juga saya....
غيراني وأتزوج النساء
وآكل لحما
وأنام
وأصوم وأفطر
Tapi sungguh, seperti itu saja saya menikah, saya juga makan daging, saya juga tidur, saya juga puasa tapi juga tidak puasa.

Apa arti dari hadits ini? Artinya ternyata institusi tauhid selamat justru lewat unsur-unsur kemanusiaan. Termasuk dalam memilih kyai/penceramah. Memang menuju sempurna itu baik, tapi ketika itu menjadi syarat, maka yg memenuhi syarat itu hanya satu dua. Ini nanti yg rugi juga umat Islam.

Jadi menurut saya nggak harus ideal. Nggak usah pakai metodologi dakwah, juga tidak usah mensyaratkan kesempurnaan. Yang penting Islam, tdk terlalu kriminal. Karena mensyaratkan kesempurnaan itu mensyaratkan ideal. Itu nanti konsekuensinya yg memenuhi kriteria terbatas. Akhirnya kesulitan, nantinya juga sama mengerdilkan Islam.

Kalau tidak perlu syarat, cuma butuh niat baik nggak aneh2. Misalnya: kalau merasa tidak alim, tidak usah fatwa. Asal jenggoten, boleh jadi jadi. Asal jidat ngecap boleh jadi. Pura2 khusyu' 2 hari boleh jadi. 😂
Akhirnya kita punya jutaan dai karena tidak perlu syarat ideal.
Pernah preman puluhan tahun, tobat setahun lalu jadi kyai, ya banyak yang jadi spt Anton Medan. Nggak ada masalah. Selama hidup kafir Cina, masuk Islam setahun jadi dai, selesai aman. Justru itu kita punya stok dari jutaan. Anaknya Karman Karlan kelihatannya kopyahan ya jadi dai, seumur hidupnya Gito Rollies tobat ya jadi dai. Itu malah Islam enak.

ADA YG TANYA: APA NGGAK TAKUT PENYIMPANGAN?

Keyakinan umat Islam seluruh dunia, standar itu kitabullah al-Quran. sehingga jika ada seorang dai melenceng itu orang Islam juga pasti paham: wong memang manusia ya pasti ada salahnya. Muslim toh tetap tahu klo hukum itu ya al-Quran, bukan Pak Dai itu. Paham ya?
Misalnya spt saya.
Ada kyai korupsi. ada kyai salah. Keyakinan umat pasti kyainya yg salah, bukan institusi islamnya yg salah.
Misalnya njenengan suka orang alim harus kopyahan, maka paling banter adalah:
"Lihat gus baha itu alim, sayangnya suka mengumpat. sebenarnya jg ga baik."
Tapi itu tetap gada masalah. kan cuma nggremeng thok. Lhah klo cuma segitu (nggremeng) saja saya kan juga bisa balas: "Kau kopyahan tapi tdk alim." 🤣🤣

Paham ya? Ini penting saya utarakan karena institusi tauhid itu justru sering selamat kalau ditopang al a'rad al basyariyah (sisi kemanusiaan). Jangan dikira untuk menyelamatkan tauhid itu kita butuh image atau citra yang baik. Nggak begitu. Yang penting tdk kriminal.
Makanya dhawuh Nabi itu sederhana
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
seorang muslim yang baik adalah yang penting tidak merugikan orang lain
Ora sah punya prestasi akeh2. pokoknya ora pati ngrugekna uwong.

Ini penting saya utarakan krn sekarang ada fenomena menuntut kesempurnaan.
Era sukarno dibilang inflasi limbung, era Suharto dibilang diktator, era Habibie dibilang taunya sekrup, era Gus Dur dibilang cacat lahir, Megawati dibilang begini begitu, SBY katanya begini. Lha dia sendiri bagaimana tdk dipikir. Paham ya? selama negara punya aturan main, itu akan baik2 saja.
Jadi kyai juga demikian.
Makanya lewat ngaji lewat keterangan Quran ini sampeyan akan bisa tahu, institusi tauhid itu bisa selamat ga ada masalah, justru lewat al a’radun al basyariyah. dan ini harus jadi energi.
Lewat bulan suci ini, ini harus jadi energi.
Saya niati dari rumah, saya bantu lewat shalat hajat, kita harus menganggap sisi kemanusiaan itu adalah dakwah terbaik. krn ga bikin aneh2 standar ideal.

Contoh:
Kau di Jawa mendapat Islam itu krn barokahnya pedagang Gujarat India lewat Aceh. karena lewat secara wajar sisi kemanusiaan antarnegara hubungan dagang malah doterima. Coba klo lewat dakwah jubahan, orang akan janggal: ini aliran apa?

Islam di Bali itu bukan krn barokah kyai. Ada org Madura merantau bakul sate. Keponakan diajak, keluarga diajak. nanti klo sudah kumpul banyak diajak membangun masjid.

Di Padang begitu, di Ambon begitu. Artinya apa? Perilakune kewajaran ini betul-betul energi. Kau dakwah langsung ngyai, kopyahan, klambinan taqwa akan diusir di mana saja. Coba sekarang di Eropa, Amerika, umumnya dagang, kalian dagang. Umumnya mereka apa, kau lakukan. Bisa! Coba sekarang ada Islam di Australia, di New York, itu yang membawa pedagang al-Jazair. Tdk ada yg langsung dibawa ulama meski di hati mereka mengalir darah ulama, tapi yg menyembul di permukaan adalah perilaku dagangnya.

Makanya saya betul-betul minta sungguh-sungguh pada jaamah di sini: latihlah bahwa kemanusiaan itu energi. Karena apa? Inti islam itu adalah tauhid. Saat menonjol kemanusiaannya itu kita tdk problem, tidak perlu image yang berlebihan. Justru mengakui tidak sempurna itu sangat baik.

Saya itu masih ingat betul, almarhum Bapak saya itu sangat hormat kepada teman-teman saya, terutama ketika zaman saya masih mondok.  Saya pernah tanya, “Bapak itu kyai besar, mengapa hormat betul dengan teman saya?”

“Lha iya, Ha’. Aku itu kirim wesel sebulan sekali. Itu pun aku tidak tahu itu cukup apa tidak. Jika tidak cukup, yang akan membantumu pasti teman-temanmu itu. Artinya fungsi teman itu persis aku sebagai orang tua. “

Jadi ketidak sempurnaan orangtua yang diakui tidak mencukup itu baik untuk tawadlu’ saya, juga baik untuk teman-teman saya. Jika saya alim, akhirnya bisa bermanfaat utk belajar teman2 yang telah membantu saya. Sebaliknya saya yang alim juga terbantu oleh teman2 belajar saya. Itu ga masalah.

Ini penting saya utarakan.

Sekarang segala sesuatu itu melalui ilmiah, termasuk menggunakan metodologi, dan sebuah metodologi jika bisa tujuannya adalah menuju kesempurnaan. Memang menuju sempurna itu baik, tapi ketika itu menjadi syarat,  akibatnya Islam tdk punya stok penceramah yang banyak karena penceramah yg tidak sesuai dengan kriteria ideal itu akan dianggap bukan penceramah. Ini nanti akhirnya juga mengerdilkan Islam.
Jadi menurut saya nggak harus ideal. Nggak usah pakai metodologi dakwah, juga tidak usah mensyaratkan kesempurnaan. Yang penting Islam, tdk terlalu kriminal. Karena mensyaratkan kesempurnaan itu mensyaratkan ideal. Itu nanti konsekuensinya yg memenuhi kriteria terbatas.

Dengan memahami fungsi masing-masing, kita tidak perlu mensyaratkan ideal. Artinya umat kita itu sudah pintar bisa memosisikan diri masing-masing.

Contoh lain: Itu sama dgn kyai nganggur. Kyai nganggur itu kan engkek. Dia tanya pada santrinya, "Cung, saiki kerjamu apa?"

Santrinya juga paham, maka dia tidak akan mungkin menjawab, "Saya juga nganggur seperti njenengan, Yai." Kurang ajar itu. 🤣🤣🤣

Artinya umat itu bisa memosisikan diri: kyai bijak bertanya pekerjaan santrinya karena dia menyadari seorang santrinya yg pemuda diharap bekerja dengan baik.

Santrinya juga mengerti bahwa seorang kyai yg sudah tua memang nganggur karena dhapuknya utk wiridan, berdoa, dan mengajar, sedang dirinya dhapuk harus kerja, maka dia akan menjawab, "Nggih, Mbah. Njenengan doakan segera mendapat kerja."

KYAI JUGA MANUSIA, SATU-SATUNYA BEKAL ADALAH IKHLAS

Bekal menjadi kyai itu hanya satu: ikhlas. Paham ya? Ikhlas. Cuma ketika ditanyai hukum jika nggak tahu ya nggak usah jawab. Kalau menjawab namanya tidak ikhlas, karena ikhlas itu artinya jujur. Jika ditanyai aneh2, jawab saja, “Alhamdulillah kok boten ngertos.” 😂
“Lha kyai kok nggak tahu?”
“Saya ini tidak pernah mengaku sebagai kyai. Njenengan sendiri yang memanggil saya kyai.” 😂
“Yang memanggil ulama kan Anda sendiri ya. Yang kecewa juga Anda sendiri. Yang bodoh dan keliru ya Anda sendiri, salah menyebut.” 😂

Paham ya. Saya ngaji kali ini  saya niati. Jadi omongan saya yang ngelantur itu hanya satu muaranya: bahwa institusi tertinggi dalam Islam itu tauhid, dan yang menyelamatkan tauhid itu ikhlas. Ikhlas bisa muncul kapan saja meskipun kita ini sebagai manusia yang profan, yang tidak sempurna, yang penuh compang-camping sana-sini. 

Kita berhutang jasa pada Kalijaga ceritanya  pernah bajingan juga jadi wali, di Jakarta Anton Medan juga dai, lagu religius dari pondok juga gak laku, malah Ungu band yang laris.

Artinya sudahlah,yang dakwah lewat begitu ya biarlah. Sing penting sama2 dalam bingkai:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Terus dhawuh Allah:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ
Nganti matek, nganti kiamat, baik dan buruk itu beda, jare Pangeran
Artine setiap orang itu punya nurani. Jadi meski kyai ilmunya sundul langit jika ia salah, perasaan umat ya merasa bahwa itu salah. Toh umat tetep hormat karena bisa mendudukkan masalah: “Pak Kyai juga manusia, yang kadang salah.”

Ya sudah tetap hurmat. Pak Kyaine sendiri sebelum ditegur oleh umat, malamnya ya sudah istighfar:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
Artinya sama baiknya.

Cuma yang menjadi masalah adalah ketika kita punya tingkat suudzan (buruk sangka) yang lebih baik daripada itu. Itulah yang bikin masalah. Suudzannya lebih subur daripada berpikir secara optimis, lapang dada. Yang bikin kiamat ya seperti itu: kita tidak berpikir dengan pandangan yang luas tapi penuh curiga.

Paham ya.

Karena itu lewat ngaji ini berulang kali saya menyampaikan, cobalah kita berlatih untuk mengakui bahwa proses kemanusiaan yang wajar adalah energi.

Saya sekarang merasakan. Istri saya yang tahu kelemahan saya akhirnya menjadi energi. Karena beliau tahu kelemahan saya dalam merawat anak, akhirnya beliau berusaha menutup kelemahan saya dengan kelebihannya merawat anak. Jika suami tidak punya uang yang pede saja, istri bisa menutupi dengan langkahnya.

Tapi kadang kita malu, akhirnya menutupi kekurangan diri kita (gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak). Akhirnya kita sendiri menciptakan kemunafikan.

Paham ya!

Makanya lewat ngaji ini pahami ngendikane Kanjeng Nabi, bahwa kekurangan-kekurangan al a’rad al basyariyah itu nggak ada masalah.  Oleh karena kita harus berterima kasih pada para ulama, ketika menyifati Nabi SAW itu shiddiq, amanah, tabligh, fathanah, dan ditambah satu yang bernama sifat jaiz al a’rad al basyariyah, bahwa para nabi itu punya sisi-sisi kemanusiaan.

***
alhamdu lillahi rabbil 'alamin
Sepenggal pengajian Gus Baha'
Yang sudah menemukan tidak perlu dishare di sini. Terima kasih.

Understanding and Interpretation-nya Gracia, kuliah online Kyai Sahiron Syamsuddin membahas sedikit ttg kata ikhlas dan tauhid: https://web.facebook.com/sahiron.syamsuddin/videos/10220153568411326/