Masjid Al-Ikhlas

Fiqih Udzur Sholat Tidak Bisa Berdiri atau Bisa berdiri Tidak Bisa Ruku' dan Sujud

Banyak yg mengira kalau orang yg tidak bisa sholat dg berdiri karena suatu hal, kemudian sholat dg duduk, maka rukuk dan sujudnya cukup dilakukan dg menundukkan badan...banyak pula yg mengira bahwa orang yg tidak bisa rukuk dan sujud karena suatu hal, maka boleh sholat dg duduk mulai awal sampai akhir...dari pemahaman yg keliru itu akhirnya banyak orang yg langsung sholat dg duduk, baik di lantai atau di kursi, tanpa memperhatikan batasan udzur yg jelas, lalu rukuk dan sujud sekedarnya, yg penting ketika sujud punggung lebih menunduk daripada rukuk...

Padahal sebenarnya tidak demikian...hal yg mudah dilakukan tidaklah gugur sebab hal yg sulit dilakukan... 

الميسور لا يسقط بالمعسور

Oleh: Ustadz Muhammad Dzunnun Amrullah

Udzur Sholat Tidak Bisa Berdiri atau Bisa berdiri Tidak Bisa Ruku' dan Sujud

Berdiri, rukuk dan sujud adalah rukun-rukun sholat yg punya dhobt/batasan rukhsoh yg mandiri, dan tidak saling menggugurkan satu sama lain...kewajiban berdiri tidak gugur meskipun seseorang tidak bisa rukuk atau sujud...demikian pula kewajiban rukuk dan sujud dg sempurna, tidak gugur meskipun seseorang sholat dg duduk...

Jadi, 

• orang yg tidak bisa berdiri namun masih bisa rukuk dan sujud, maka sholat dg duduk, rukuknya dg merundukkan kepala, dan sujudnya wajib dilakukan seperti biasa, menempelkan kening ke lantai...

• orang yg tidak bisa berdiri dan tidak bisa rukuk namun masih bisa sujud, maka sholat dg duduk, rukuknya dg isyarat semampunya dan sujudnya tetap wajib dilakukan seperti biasa...

• orang yg tidak bisa berdiri, juga tidak bisa rukuk dan sujud dg sempurna, maka sholat dg duduk di lantai mulai awal sampai akhir...sujudnya dg menundukkan kepala lebih rendah daripada rukuknya... 

• orang yg bisa berdiri namun tidak bisa rukuk dan sujud, maka wajib tetap sholat dg berdiri...rukuk dan sujudnya dg menundukkan punggungnya, atau lehernya atau kepalanya atau pandangannya, sebisa yg dia lakukan...ia berdiri mulai awal sampai akhir sholat... 

• orang yg menurut keterangan dokter tidak boleh berdiri dan tidak boleh duduk/melipat lututnya di lantai, diperbolehkan baginya sholat di atas kursi, rukuk dan sujudnya dg merundukkan kepala... 

Maka, 

• tidak sah orang yg sholat dg duduk padahal masih kuat berdiri... 

• tidak sah orang yg sholat dg duduk hanya karena tidak bisa rukuk dan sujud...

• tidak sah orang yg sholat dg duduk di lantai, lalu sujudnya dilakukan dg membungkukkan badan, padahal masih bisa menempelkan kening ke lantai...

• tidak sah orang yg sholat dg duduk di kursi tanpa rukuk dan sujud yg sempurna padahal jika duduk di lantai ia mampu melakukan rukuk dan sujud dengan sempurna... 

Apa saja aturan syariat terkait berdiri di dalam sholat ?

• berdiri dalam sholat fardhu hukumnya wajib bila mampu, meninggalkannya tanpa udzur sholat tidak sah, meyakini kalau berdiri tidak wajib hukumnya kafir... 

• orang yg tidak mampu berdiri karena udzur, lalu sholat dg duduk, sholatnya sah dan mendapat pahala yg sempurna sebagaimana orang yg sholat berdiri... 

• kewajiban berdiri tidak gugur bila udzurnya diperkirakan bisa hilang dg mengakhirkan sholat...maka wajib menunda sholatnya meskipun menyebabkannya sholat di akhir waktu... 

• kewajiban berdiri tidak gugur bila sakitnya hilang di tengah sholat...misal seseorang memulai sholatnya dengan duduk, kemudian di rokaat kedua ia merasa mampu untuk berdiri, maka ia wajib berdiri saat itu... 

• begitupun sebaliknya, kewajiban berdiri bisa gugur di tengah sholat...misal di awal rakaat ia sholat dengan berdiri, kemudian di rokaat kedua kepala terasa pening berat maka ia boleh melanjutkan sholatnya dalam keadaan duduk... 

• kewajiban berdiri tidak gugur meskipun sekedar untuk baca fatihah...jadi misal seseorang hanya kuat berdiri untuk membaca fatihah dan tidak kuat berdiri untuk membaca surat, maka wajib berdiri ketika membaca fatihah kemudian duduk untuk membaca surat... 

• kewajiban berdiri tidak gugur bila masih bisa dibantu oleh alat, seperti tongkat, meja, tembok, atau dibantu orang lain, meskipun ia harus membayarnya...jadi wajib baginya menggunakan bantuan... 

• bersandar saat berdiri hukum asalnya makruh, kecuali bila karena udzur maka tidak makruh lagi, bahkan bisa wajib bersandar bila hanya dengannya ia mampu berdiri... 

• batas udzur yg membolehkan sholat dg duduk, menurut Imam Syafii : sakit yg tidak bisa ditahan... 

menurut Ibnu Rif'ah : sakit yg berat... 

menurut Imam Nawawi : kesulitan yg jelas, khawatir luka/sakit, takut penyakitnya semakin parah, takut tenggelam, kepala pusing, atau ada masyaqqoh yg bisa menghilangkan kekhusyukan...

menurut as Syarqowy : sakit atau hal2 apapun yg menghilangkan kesempurnaan khusyu'... 

• orang yang mampu melaksanakan shalat sendirian dalam keadaan berdiri dari awal rakaat hingga akhir, namun jika berjamaah dia harus duduk pada sebagian rakaat, maka baginya lebih utama melaksanakan shalat sendirian...meski demikian, jika dia tetap melaksanakan shalat berjamaah dengan pilihan harus duduk pada sebagian rakaat, maka shalatnya tetap sah... 

• bagi orang yang da'imul hadas, baik karena beser atau istihadhoh atau keputihan, bila shalat dengan duduk hadasnya bisa berhenti, maka ia diwajibkan shalat dengan duduk...nanti setelah sembuh tidak perlu mengqadla shalatnya...

• posisi duduk untuk sholat boleh dg iftirosy (duduk tahiyyat awal), atau tawarruk (duduk tahiyyat akhir) atau tarobbu' (duduk bersila), atau duduk iq'aa' atau tamdid (menselonjorkan kaki)...perbedaan pendapat para ulama hanya dari sisi afdholiyahnya...menurut qoul adzhar duduk iftirosy lebih utama, sebab itu adalah duduk ibadah, sedangkan tarobbu' adalah duduk adat...menurut sebagian ulama duduk tarobbu' lebih utama, agar membedakan antara duduknya orang yg udzur dg orang yg tidak udzur, dan Nabi juga pernah mempraktekkan sholat dg duduk tarobbu'...menurut al Mawardi bagi perempuan lebih utama duduk tarobbu' karena lebih menutup aurot... 

(duduk iq'aa' itu mirip duduk iftirasy hanya saja kedua kakinya ditegakkan, jari-jari kaki bagian dalam menempel di lantai dan pantat menempel tumit) 

(orang yg sholat dg duduk menselonjorkan kaki tetap wajib sujud dg sempurna dan menempelkan kening di lantai bila mampu) 

Bagaimana dg sholat sunnah ? 

• berdiri dalam sholat sunnah hukumnya sunnah, boleh ditinggalkan meskipun tanpa udzur, namun pahala sholatnya separuh... 

• termasuk khususiyat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau meskipun sholat dg duduk, tetap dapat pahala sempurna... 

• diperbolehkan pula sholat sunnah dg berbaring (tidur miring) meskipun ia kuat duduk dan berdiri, namun pahalanya separuh dari sholat duduk... 

• sholat dg berbaring/tidur miring, caranya dg tidur di atas lambung kanan, wajah dan tubuh menghadap ke kiblat...bila tidak mampu maka cukup wajahnya yg menghadap kiblat...rukuk dan sujudnya dg isyarat kepala, bila tidak mampu maka dg isyarat mata... 

Bila tidak bisa duduk tawarruk, maka boleh duduk iftirosy...bila iftirosy tidak bisa, boleh duduk bersila...bila masih tidak bisa, boleh duduk menselonjorkan kaki...bila masih tidak bisa maka boleh duduk dg cara apapun...


فَإِنْ لَمْ يُطِقِ انْتِصَابًا وَصَارَ كَرَاكِعٍ فَالصَّحِيحُ: أَنَّهُ يَقِفُ كَذَلِكَ، وَيَزِيدُ انْحِنَاءَهُ لِرُكُوعِهِ إِنْ قَدَرَ. وَلَوْ أَمْكَنَهُ الْقَيَامُ دُونَ الرُّكُوعِ وَالسَّجُودِ قَامَ وَفَعَلَهُمَا بِقَدْرِ إِمْكَانِهِ ولو استند مع الانتصاب المشروط إلى جدار أو إلى إنسان استنادًا لا يسلب اسم القيام صح في الأصح، وقيل: لا، وقيل: إن كان بحيث لو رفع السناد لم يسقط صح، وإلا فلا. ولو لم يقدر على النهوض للقيام إلا بمعين لزمه أن يستعين بمن يقيمه، فإن لم يجد متبرعًا لزمه الاستئجار بأجرة المثل إن وجدها، أو أن يعتمد على شيء. قال القاضي حسين: لم يلزمه ذلك، وصرح الإمام والمتولي بخلافه

( النجم الوهاج في شرح المنهاج - ج ٢ ص ٩٨) 

وَاعْلَم أَنه لَيْسَ المُرَاد بِالْعَجزِ عدم الامكان بل خوف الْهَلَاك أَو زِيَادَة الْمَرَض أَو لُحُوق مشقة شَدِيدَة أَو خوف الْغَرق ودوران الرَّأْس فِي حق رَاكب السَّفِينَة وَقَالَ الامام ضبط الْعَجز أَن تلْحقهُ مشقة تذْهب خشوعه كَذَا نَقله عَنهُ النَّوَوِيّ فِي الرَّوْضَة وَأقرهُ إلاأنه فِي شرح الْمُهَذّب قَالَ الْمَذْهَب خِلَافه وَقَالَ الشَّافِعِي هُوَ أَن لَا يُطيق الْقيام إِلَّا بِمَشَقَّة غير مُحْتَملَة قَالَ ابْن الرّفْعَة أَي مشقة غَلِيظَة وَاعْلَم أَنه لَا يتَعَيَّن لقعوده هَيْئَة وَكَيف قعد جَازَ وَفِي الْأَفْضَل قَولَانِ أصَحهمَا الافتراش لِأَنَّهُ أقرب إِلَى الْقيام وَلِأَن التربع نوع ترفه والثَّانِي التربع أفضل ليتميز قعُود الْبَدَل عَن قعُود الأَصْل

( كفاية الاخيار ص ٢٢)

(قوله إجماعا) إلى قوله: ولو نهض في النهاية والمغني قول المتن (كيف شاء) أي على أي كيفية شاءها من افتراش أو تورك أو تمديد أو نحو ذلك شيخنا. (قوله ولا ينقص ثوابه الخ) فثوابه كثواب القائم

( حواشي الشرواني ج ٢ ص ٢٤)

وإذا افتتح الصلاة قائما ثم عجز أتم صلاته وإن افتتحها قاعدا ثم قدر على القيام قام وأتم صلاته لأنه يجوز أن يؤدي جميع صلاته قاعدا عند العجز ، وجميعها قائما عند القدرة ، فجاز أن يؤدي بعضها قاعدا عند العجز وبعضها قائما عند القدرة ( فرع ) في مذاهب العلماء إذا افتتح الصلاة قائما ثم عجز قعد وبنى عليها بالإجماع ، نقل الإجماع فيه الشيخ أبو حامد وغيره ، وإن افتتحها قاعدا للعجز ثم قدر على القيام قام وبنى عندنا ، وبه قال أبو حنيفة وأبو يوسف والجمهور

(المجموع ج ٤ ص ٢٠٨) 

"ولو قَدَرَ عَلَى الْقِيَامِ أَوْ الِاضْطِجَاعِ فَقَطْ ، أَيْ دُونَ الْجُلُوسِ : قَامَ وُجُوبًا ؛ لِأَنَّ الْقِيَامَ قُعُودٌ وَزِيَادَةٌ ، وَأَوْمَأَ قَائِمًا بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ قُدْرَتَهُ.... وَتَشَهَّدَ وَسَلَّمَ قَائِمًا ، وَلَا يَضْطَجِعُ

(حاشية العبادي على تحفة المحتاج ج ٢ ص ٢٣) 

ولو عجز عن النهوض إلا بمعين لزمه ولو بأجرة مثل طلبها فاضلة عما يعتبر في الفطرة فيما يظهر وقول ابن الرفعة لو قدر أن يقوم بعكاز أو اعتماد على شيء لم يلزمه ضعيف كما أشار إليه الأذرعي أو محمول على ما قاله الغزي على ملازمة ذلك ليستمر له القيام فلا ينافي الأولى لأن محلها فيما إذا عجز عن النهوض إلا بالمعين لكنه إذا قام استقل اهـ والأوجه أنه لا فرق فحيث أطاق أصل القيام أو دوامه بالمعين لزمه

(تحفة المحتاج ج ٢ ص ٢٢) 

ولو عجز عن الركوع والسجود دون القيام لعلة بظهره تمنع الانحناء لزمه القيام ، ويأتي بالركوع والسجود بحسب الطاقة ، فيحني صلبه قدر الإمكان .فإن لم يطق ، حنى رقبته ، ورأسه ، فإن احتاج فيه إلى شيء يعتمد عليه ، أو إلى أن يميل إلى جنبه لزمه ذلك . فإن لم يطق الانحناء أصلا أومأ إليهما

(الروضة ج ١ ص ٢٣٣) 

ومنها ما لو كان به سلس بول ولو قال سال بوله وإن قعد لم يسل فإنه يصلي قاعدا وجوبا كما في الأنوار ولا إعادة عليه

ولو أمكن المريض القيام منفردا من غير مشقة ولم يمكنه ذلك في جماعة إلا بفعل بعضها قاعدا فالأفضل الانفراد ، وتصح مع الجماعة وإن قعد في بعضها كما في زيادة الروضة

( نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ج ١ ص ٤٦٥)

(ولو عجز عن القيام قعد) بالإجماع (كيف شاء) لإطلاق حديث عمران بن الحصين، ولا ينقص ثوابه، لأنه معذور.( وافتراشه أفضلُ من تربُّعه) وتوركِه وغيرِهما (في الأظهر) لأنه قعود العبادة، فكان أولى من التربع الذي هو قعود العادة، وإنما فضل على التورك؛ لأنه قعود تَعْقُبه حركة، فأشبه التشهدَ الأول، والثاني: التربع أفضل؛ لئلّا يلتبس بالتشهد، وصححه جمع، وقال الماوردي: إن التربع للمرأة أفضل، لأنه أستر لها

(بداية المحتاج شرح المنهاج ج ١ ص ٢٣٢) 

قوله (فَإنْ لَمْ يَقْدرْ) عَلىَ الْقيَام بأنْ لَحقَتْهُ به مَشَقةٌ شَديْدَةٌ أوْظَاهرَةٌ عبَارَتَان مَعْنَاهُمَا وَاحدٌ وَهيَ التيْ لاَ تُحْتَمَلُ عَادةً وَإنْ لمْ تُبح التيمُمَ كدَوَرَان رْأس وَهَلْ التيْ تذهبُ الخُشُوْعَ شَديدَةٌ ؟ قَالَ (حج) لاَ و (مر) نَعَمْ بَلْ قاَلَ الشرْقاَويْ أوكَمَالَهُ ( قَعَدَ) كَيْفَ شَاءَ وَلاَ يَنْقُصُ ثَوَابَه

(بشرى الكريم ص ٢٠٠) 

فَإِذَا كَانَ يَقْدِرُ عَلَى الْقِيَامِ إلَى قَدْرِ الْفَاتِحَةِ ثُمَّ يَعْجِزُ قَدْرَ السُّورَةِ قَامَ إلَى تَمَامِ الْفَاتِحَةِ ثُمَّ قَعَدَ حَالَ قِرَاءَةِ السُّورَةِ ثُمَّ قَامَ لِلرُّكُوعِ

(تحفة المحتاج ج ٢ ص ٢١) 

أجمعت الأمة على أن من عجز عن القيام في الفريضة صلاها قاعدا ولا إعادة عليه , قال أصحابنا : ولا ينقص ثوابه عن ثوابه في حال القيام , لأنه معذور , وقد ثبت في صحيح البخاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( إذا مرض العبد أو سافر كتب له ما كان يعمل صحيحا مقيما ) . قال أصحابنا : ولا يشترط في العجز أن لا يتأتّى القيام ، ولا يكفي أدنى مشقة ، بل المعتبر المشقة الظاهرة ، فإذا خاف مشقة شديدة أو زيادة مرض أو نحو ذلك أو خاف راكب السفينة الغرق أو دوران الرأس صلى قاعدا ولا إعادة

( المجموع ج ٤ ص ٢٠١) 

معناه أن صلاة القاعد فيها نصف ثواب القائم ، فيتضمن صحتها ونقصان أجرها . وهذا الحديث محمول على صلاة النفل قاعدا مع القدرة على القيام ، فهذا له نصف ثواب القائم . وأما إذا صلى النفل قاعدا لعجزه عن القيام فلا ينقص ثوابه بل يكون كثوابه قائما . وأما الفرض فإن صلاه قاعدا مع قدرته على القيام لم يصح فلا يكون فيه ثواب بل يأثم به قال أصحابنا (الشافعية) : وان استحله كفر وجرت عليه أحكام المرتدين كما لو استحل الزنى والربا أو غيره من المحرمات الشائعة التحريم .وإن صلى الفرض قاعدا لعجزه عن القيام أو مضطجعا لعجزه عن القيام والقعود ، فثوابه كثوابه قائما ، لم ينقص باتفاق أصحابنا ، فيتعين حمل الحديث في تنصيف الثواب على من صلى النفل قاعدا مع قدرته على القيام . هذا تفصيل مذهبنا وبه قال الجمهور في تفسير هذا الحديث وأما قوله صلى الله عليه وسلم : ( لست كأحد منكم ) فهو عند أصحابنا من خصائص النبي صلى الله عليه وسلم ، فجُعلت نافلته قاعدا مع القدرة على القيام كنافلته قائما تشريفا له ، كما خص بأشياء معروفة في كتب أصحابنا وغيرهم ، وقد استقصيتها في أول كتاب تهذيب الأسماء واللغات

(شرح صحيح مسلم ج ٦ ص ١٤)  

والمراد بالنائم المضطجع. ولو تنفل مضطجعا بالإيماء بالرأس مع قدرته على القيام والقعود فوجهان (أحدهما) لا تصح صلاته لأنه يذهب صورتها بغير عذر وهذا أرجحهما عند إمام الحرمين والثاني وهو الصحيح صحتها لحديث عمران

( المجموع ج ٣ ص ٢٧٥) 

مسألة الصلاة على الكرسي يعود حكمه إلى ما يقوله الطبيب الموثوق به للمريض، فإن منعه من الصلاة قاعداً، أي منعه من ثني ركبتيه على الأرض، فليس أمامه إلا الصلاة على الكرسي عندما يهوي للسجود، وصلاته عندئذ صحيحة على كل المذاهب، وإن منعه من الصلاة قائماً لسبب ما ولم يمنعه من الحالات الأخرى، أي لم يمنعه من السجود على الأرض بوضع جبهته عليها، وجب عليه ذلك ولم تصح صلاته على الكرسي، إلا إن هوى عند السجود على الأرض كغيره وخصوصية الكرسي لا معنى لها ولا حاجة إليها عندئذ

( فتاوى الشهيد محمد سعيد رمضان البوطي رقم ٢٥٤٦)


فرع : لو عجز عن هيئة الافتراش أو التورك المعروفة وقدر على عكسها فعله لأنه الميسور

(تحفة الحبيب ج ٢ ص ٢٣٤)

اعلم أنه لا يتعين في الصلاة جلوس بل كيف قعد المصلي جاز وهذا إجماع سواء في ذلك جلسة الاستراحة والجلوس بين السجدتين والجلوس لمتابعة الإمام

(كفاية الاخيار ١١٧)

Datang ke Perpustakaan, Gus Baha' Diculik Santri untuk Ngaji Bareng

(Latar belakang video yang saya posting kemarin)

Kedatangan Gus Baha di perpustakaan Ma’had Aly Ponpes Salafiyah Safi’iyyah Sukorejo, Sumberejo, Banyuputih, Situbondo saat digelarnya Haul Majemuk sekaligus reuni akbar alumni santri Sukorejo disambut hangat.

Para pengajar dan pengurus Ma’had Aly Situbondo memfasilitasi para hadirin agar dapat bertatap muka dan berdiskusi dalam acara ‘Ngaji Bareng Gus Baha’ (13/1). Benar saja, Gus Baha' hadir secara tiba-tiba. Komplek Ma’had Aly Situbondo riuh, seluruh pandangan menuju ke santri kinasih Mbah Moen ini. Tanpa menunggu lama, beliau sudah duduk untuk memberikan kuliah umum.



Ustaz Wahid, ustaz muda di Ma’had Aly Situbondo yang kesohor sebagai orang pintar ilmu mantiq dan usul fikih itu memandu acara. Ustaz Wahid, begitu ia saya sebut selalu menjadi primadona dalam urusan memoderatori narasumber-narasumber beken. Ia sangat pintar menghidupkan forum-forum ilmiah, dengan permainan logika dan lincah memosisikan kata-kata.

Dalam diskusi siang itu, Gus Baha' banyak menyoroti pentingnya untuk tidsk terjebak dalam tekstualistik dalam memahami Qur’an dan Hadits. Begitu pula dalam mempelajari kitab-kitab klasik.
Menurut Rais Syuriah PBNU ini, kiai yang setiap ngaji tidak bisa guyon itu kurang ‘alim. Itu sebabnya mengapa beliau kerap melontarkan guyonan saat memberi pengajian. Lalu beliau pun mengutip perkataaan mendiang gurunya KH. Maimoen Zubair.

“Mbah Moen pernah mengatakan bahwa kiai yang ndak bisa guyon saat ngaji itu kurang lengkap ilmunya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Maka dapat dikatakan bahwa selera dan kemampuan humor yang menjadi kekhasan para kiai NU ini menjadi penting agar penyampaian pesan bisa diterima dengan baik dan membekas oleh setiap jama’ah.
Melalui humor (guyonan), kiai dapat lebih mudah menyampaikan makna teks-teks yang dapat dikatakan ekstrem dan berat kepada jama’ahnya. Hal ini umum diterapkan di setiap pondok pesantren NU dimanapun di seluruh Nusantara.

“Tafsir itu gampang, tapi pastikan dulu kalian faham fikih, sehingga akan mudah menakwil Qur’an. Itu pasti gampang” katanya kepada para santri Ma’had Aly.

***
Ngaji Bareng Gus Baha', di Ma'had Aly Situbondo, 13 Januari 2020

Sumber tulisan:
SUBSCRIBE Channel YouTube Ma'had Aly Situbondo di:
https://www.youtube.com/watch?v=DcgTZEUyvp0

Gus Baha': Tidak Boleh Belajar Tafsir Jalalain Sebelum Belajar Fiqih

Seperti biasa, Gus Baha' nggojlok para santri, kali ini, santri2 Madura. Mereka tak mau kalah dengan Gus Baha'. Gus Baha'  pun tak luput  dari gojlokan mereka, karena mana ada santri Madura mau kalah. 😆

***
Qashar salat itu asalnya dari perang.
Qashar salat itu asalnya dari perang.

SUPAYA TIDAK TERJEBAK TEKS

Menurut saya, tradisi guru2 kita sudah benar: orang tidak boleh belajar tafsir Jalalain sebelum belajar kitab fiqih:
1. al-Mabadi al-Fiqhiyah
2. Fiqih shalat
3. Sullam Taufiq
4. Sullam Safinah
Supaya tidak terjebak tekstualistik.

Sekarang termasuk fitnah besar. Orang belum belajar apa2 langsung belajar tafsir.

MENGKAJI TAFSIR MENGAJAR FIQIH

Saya ini dipandang sebagai ahli tafsir, tapi belum pernah saya membaca tafsir secara masif.
Setiap kali saya mengajar tafsir, saya pasti mengajar fiqih.
Saya masih mengajar:
Al-Muhadzab
Fathul Wahhab
Bahkan Sullam Taufiq, kitab fiqih terkecil pun masih saya ajarkan.
Saya mengaji tafsir hanya dua minggu sekali. Itu pun saya pasti membicarakan fiqih, karena khawatir orang hanya bicara tafsir tidak bicara fiqih.Khasnya saya mengaji tafsir itu pasti bicara fiqih. Makanya Prof.Quraish Shihab mengagumi saya karena selalu bicara fiqih saat mengaji tafsir. Karena nggak kebayang kalau tafsir itu tidak dikawal dengan fiqih.

MENGKAJI FIQIH, HARUS MENGKAJI LUGHAT

Kalau mau mengkaji fiqih, maka harus mengkaji aturan2 lughat. Saya mengkaji kitab fiqih itu banyak:
Lubbul Ushul
Jam'u al-Jawami'
Di separuh akhir kitab itu pasti ada pedoman lughat. Karena nggak bisa mengkaji ushul fiqih tanpa tahu aturan2 lughat. Ilmu itu didpatkan dari Al-Quran, sedang Al-Quran adalah  lisanul a'rabi
Jadi pastikan alim fiqih dulu. Kalau fiqih sudah dipastikan, baru kamu ke lughatul a'rabi, atau saya bahasakan lisanul a'rabi.
Nanti tafsir/menakwil Quran pasti mudah. Artinya kamu bisa memaknai karena keahlian dalam fiqih, sehingga kamu tidak terjebak tekstualistik. Jika fiqih hapal, lafadz alquran yang muhim (membuat salah cipta) pun akan bisa paham.

https://www.youtube.com/watch?v=imbKFY8hU6Y

Gus Baha': Yang Paling Penting dalam Hidup (Definisi Ahlussunnah/Sunni)

Tafsir Jalalain QS. Al Ankabut 64


{ وما هذه الحياة الدنياTA1 إلا لهوTA2 ولعب TA3} وأما القربTA4 فمن أمور الآخرةTA5 لظهور ثمرتهاTA6 فيهاTA7 { وإن الدار الآخرة TA8لهيTA9 الحيوانTA10 } بمعنى الحياةTA11 { لو كانوا TA12 يعلمون TA13} ذلكTA14 ما آثروا TA15الدنيا TA16عليها TA17


[TA1]Lan ora ana utawi ikilah penguripan dunya (nggih sak niki sing teng dunya) (iku)
[TA2]kecuali lelahan (yaitu sesuatu yang tidak prinsipil)
[TA3]lan kecuali ya mung dolanan thok

Donya iku mung lelahan lan guyon, maksude ora ana sing penting

[TA4]Anapun utawi pira2 taqarrub qurba ilallah (nggawe amalan sing ndadekna pareg ilallah) (iku)
[TA5]mangka iku setengah saking urusan akhirat (amerga)
[TA6]kerana pertelane buahe ikilah alqurab utawi al qurbah
Gawe papareg mbek Pengeran. Kados suujud niku lho. Wasjud waqtarib.
[TA7]In dalem akhirat
[TA8]Lan sak temene omah akhirat (kang akhir, maknane njing emben)
[TA9]Yektine iku utawi darul akhirah (iku)
[TA10]Omah sing dadi kewan (maknane sing dadi urip)
Merga diarani kewan niku merga urip. Hayawan saking kata hayat yang ditambahi alif nun menjadi hayawan, maknanya barang yang hidup
[TA11]Kelawan nganggo maknane barang sing urip
Akhirat itu sing hakekat kehidupan
[TA12]Lamun ana (sapa? wong akeh)
[TA13]Iku ngerti (sapa? wong akeh)
[TA14]Ing mengkono-mengkono إن الدار الآخرة لهي الحيوان
(Seumpama orang itu tahu pentingnya akhirat, donya ora penting,)
[TA15]Mangka ora bakal menangna (sapa? Wong)
[TA16]Ing demi dunya
[TA17]ngalahna ing atase akhirat

Umpama wong iku sadar pasti tidak akan menangna dunya ngalahna akhirat

Musholla penceng Al-Ikhlas
Musholla penceng Al-Ikhlas

BUKTI HIDUP ITU MATI, MATI ITU HIDUP 

Sudah ini bahasannya berbeda dengan yang kemarin ya. Saya terangkan saja ya.
Jadi begini ya: saya terangkan ilmu hakekat. Memang mau tidak mau hal ini harus dijelaskan dengan ilmuhakekat.
Sekarang kalian hidup atau mati? Sekarang ini lho, pas kalian semua sedang ngaji Jalalain ini.
Urip?
Yakin? 😆
Nah, itu keliru. Ilmu kalian keliru, berarti ilmu kalian masaih ilmu syariat.
Secara hakekat, kalian sekarang ini mati. Hidup kalian itu nanti ketika kalian sudah “mati”, maksud saya nanti jika sudah di akhirat.
Jadi kelak jika kalian “mati”, maka hidup. Sekarang ini mati.
Bukti bahwa kita sekarang mati itu adalah kita sering salah paham. Salah paham itu menunjukkan kita bodoh. Kebodohan itu itu bukti mati, agak tidak bisa berpikir.

UANG, PENGARUH, JABATAN, DIPERLAKUKAN BAIK

Misalnya begini, kalian saya beri tebakan.
Sekarang kan kalian menanggap uang itu penting, penting sekali. Kelak di akhirat itu kalian tidak butuh uang. Tapi tahunya bahwa uang itu tidak penting kalian harus menunggu nanti di akhirat.
Oleh karena itu Kanjeng Nabi SAW ketika menjelaskan ilmu hakekat itu unik. Ini masyhur, riwayat dari para wali para ulama ya tentu musalsal, musalsalah hingga ke Kanjeng Nabi SAW.
Kanjeng Nabi SAW mengumpamakan begini:
أَلنَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوْا انْتَبَهُوْ
Saya maknani ya:
Annasu: utawi pira-pira menungsa (iku)
Niyamun: hakekate mung turu
Sekarang kalian itu tidur. Maknanya tidur itu tidak terlalu sadar.
Waidza matu intabahu: nalikane mati, itu terbangun, atau terjaga.
Contoh mudahnya ya itu tadi. Kalian di dunia menganggap uang itu penting, pengaruh kalian anggap penting, kenal bupati penting, diperlakukan baik oleh orang kalian anggap itu penting, dsb.
Ternyata nanti di akhirat, yang paling penting itu adalah sujud kalian di dunia, sehingga kalian lalu menyesal: “Ya Allah. Zaman saya di dunia, gara-gara malas tidak tahajud, gara2 malas saya tidak shalat."

Ternyata di akhirat yang penting itu shalat. Uang tidak penting. Pengaruh juga tidak penting. Umat seperti santri2 seperti kalian itu sama sekali tidak penting, tidak penting sama sekali. 👎🤣
Saya pun seandainya orang alim tidak diwajibkan mengajar, tidak mau mengajar. Berhubung wajib, ya terpaksa dijalani. 😂
Nanti saya bacakan ta’birnya, karena ini penting. Kemarin saya ngaji di Narukan di rumah saya yang Reboan, ini juga saya jelaskan.

MENGIGAU

Kelak kalau kalian sudah mati, itu istilah Quran begini:
لَقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
Setiap orang yang mati, apalagi orang fasiq, orang yang kafir, itu didhawuhi Pangeran begini:
“Cung, kalian dulu lupa dari peristiwa akhirat ini. Sekarang semua sudah kuungkap. (Fakasyafna ‘anka ghitha aka) sekarang tutup2 itu sudah kusingkap, (fabasharuka) mangka utawi peningal sira (alyauma) ing dalem iki dina (iku) (hadidun) iku dadi cerdas/dadi tajam.”
Karena setelah kalian di akhirat, ingat sungguh ternyata ketika di dunia itu kita mengigau:
كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ
Bukti bahwa kita salah itu begini:
Misalnya:
Kenal presiden AS, kalian merasa bangga,
kenal duta besar, kalian merasa bangga,
Ternyata hakekat itu semua tidak penting di akhirat.
Ternyata yang penting adalah:
Mengusap anak yatim, lalu kalian sedekahi.
Sujud ke Allah, kalian nikmati.
Mengaji Jalalain begini, kalian syukuri.
Hal2 yang ketika di dunia kalian anggap tidak penting, ternyata penting.
Kadang keliru lagi begini:
Ada kyai ikhlas memiliki mushalla miring, kalian bilang kyai kecil. Yang pejabat struktural yang menjabat pada ormas besar kalian anggap kyai top.
Ternyata yang kau anggap  top itu di akhirat sepele banget, sedangkan kyai kecil yang kalian hina bisa mensyafa’ati kalian.
Kyai boleh dendam di akhirat. Ketika diminta mensyafaatimu “Nggak mau, kau bilang aku kyai kecil.” 😂
Lho dendam itu oleh Allah diperbolehkan di akhirat.
Oleh karena itu, kalian jangan suka menghina kyai kecil. Bisa saja dia besar 'indallah. Oh, banyak yang semacam ini.
رب أشعث أغبر مدفوع بالأبواب، لو أقسم على الله لأبره
Dhawuhe Kanjeng Nabi SAW: "Banyak orang yang ketika di dunia kelihatan gimbal awut-awutan rambutnya, compang-camping pakaiannya, tapi andaikan sumpah atas nama Allah, pasti Allah memenuhinya.
Yang masyhur disebut ya yang bernama Uwais al-Qarni.

UWAIS AL-QARNI 

Uwais al-Qarni itu tidak pernah shalat Jumat karena tidak punya pakaian yang cukup untuk menutupi auratnya untuk shalat Jumat. Karena dia tidak berani memiliki baju dua buah. Karena jika punya dua buah baju, dia khawatir kena hisab saat ada orang lain yang tidak memiliki baju, karena punya kelebihan kok tidak diberikan. Supaya bebas hisab, dia hanya punya satu baju. Seumpama itu syubhat, tetaplah halal karena untuk menutupi aurat. Makan juga demikian, sehari-hari ia makan jika kalau tidak makan ia akan mati. Maka jika makannya adalah haram, tetaplah halal karena darurat. Jika lebih dari itu, akan kena hisab.

Kalian tidak usah mencoba! 😂
Nanti kok terus kalian semua ingin mencobanya lalu mati satu per satu. Malah repot semua. Goblok kalian kalau mencobanya. Saya jamin kalian mencoba pun tetap bukan wali. Tetap namanya frustasi. 🤣
Jadi orang itu kalau bukan kelasnya, dipaksa pun tidak akan bisa jadi. Ini cuma cerita saja bahwa kita mencintai orang shaleh seperti beliau, tidak usah meniru. Paham ya! Jika tidak bakat, tidak usah meniru.
Misalnya kalian suka sama saya: "Gus Baha idolaku!"
Lalu kau mau meniru alimnya, malah sakit hati kalian nanti. 😆
Meniru itu kelucuan atau guyon saya saja, tidak usah alimnya. Malah susah payah: kalian harus menghapalkan Al-Quran, menghapal Alfiyah, belajar Ianathutthalibin, dll kalian malah nggak sempat mencari uang, malah diomelin istri kalian, 😂 malah bencana besar.
Orang itu jika bukan kapasitasnya tidak usah meniru. Seperti saya ini juga mengidolakan Kanjeng Nabi SAW, tapi kalau yang berat2 ya tidak meniru beliau. Tahajud ya dua rakaat saja. Lalu kalian akan melihat kaki kalian belum bengkak, lanjut terus tahajud sampai bengkak.  🤣
Tidak usah begitu! Saya kalau tahajud dua rokaat saja lalu berdoa begini: "Kanjeng Nabi sae, idola, merga sayyidul khalqi, pantes saja shalat sampai sedemikian. Lha saya bukan akramul khalqi kok disuruh sampai sedemikian." 😆
"Ya nggak usah wong saya bukan akramul khalqi, biarin yang akramulkhalqi shalat sampai begitu. Saya tidak, ya sudah cukup begini saja, Gusti."
Itu yang benar! Paham ya.
Jadi orang itu sadar akan kapasitasnya. Tidak usah meniru Uwais Al-Qarni. Yang penting jangan meniru Firaun saja. 😆
Nanti saya bacakan ya. Memang ta'bir itu saya tulis sengaja saya bacakan persis teksnya.
Abu Qasim AL-Junaidi, siapa yang tidak kenal dia, orang paling populer di dunia tasawuf.

DEFINISI AHLUSSUNAH WAL JAMAAH 

Abu Qasim AL-Junaidi, siapa yang tidak kenal dia, orang paling populer di dunia tasawuf, sehingga jadi definisi ahli sunnah dalam konteks modern/kekinian yaitu konteks pasca-Imam Syafii, bukan modern ala kita. Ciri utama ahli sunnah zaman akhir itu dalam aqidah menganut kalau bukan Abul Hasan Al Asy'ari, maka menganut Abu Mansyur Al-Maturidi. Dalam fiqih, mengikuti salah satu mazhab empat: Abu HAnifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, atau Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam Tasawuf, mengikuti salah satu mazhab yang dianut Abul Qasim Al-Junaidi atau Imam Ghazaliy.

MENGAPA MENJADI DEFINISI AHLUSSUNNAH SEPERTI ITU?
Yang begini ini juga ada ormas yang menentang. Firqah di Arab banyak yng menentang. Mengapa definisi ahlussunnah seperti itu.
"Itu ta'rif apa? Nabi SAW tidak pernah ngendikan seperti itu."
Kamu itu tidak usah terjebak dengan omongan mereka bahwa Nabi SAW tidak pernah ngendikan definisi ahlussunnah waljamaah seperti itu.
Ya tentu Nabi SAW tidak akan ngendikan seperti itu. Zaman Nabi SAW kan belum ada Imam Ghazaliy, belum ada Abul Qasim Al-Junaidi.
Tapi kita percaya dengan ddefinisi seperti itu, karena kita tetap percaya bahwa alisunnah adalah orang yang kata Rasulullah SAW:
ما أنا عليه اليوم وأصحابي
Orang yang mengikuti perilaku saya, dan mengikuti para shahabat saya.
Itu teks yang dikatakan Nabi SAW.

PENTINGNYA SANAD

Lalu mengapa kita menyebut imam-imam kita, sanad2 kita? Karena kalau kita tidak menyebut, pertanyaannya adalah "Kamu bagaimana bisa tahu shahabat melakukan itu? Itu kata siapa?"
Pasti akan dijawab, "Kata guru saya."
Kalian tidak bisa langsung mengatakan, "Kata Nabi."
Lha kata Nabi itu perawinya siapa?
Imam Bukhari.
Imam Bukhari itu siapa? Imam Bukhari itu muridnya Imam Syafii. Imam Bukhari itu periodenya setelah Imam Syafii.
Saya hapal sanadnya Imam Bukhari hingga Rasulullah SAW. Saya punya sanad sampai Imam Bukhari. Sehingga kita mau tidak mau harus menyebut ulama.
Misalnya kau ditanya:
"Kau tahu Amerika Serikat?"
"Tidak tahu."
"Dari mana tahu bahwa ada Amerika Serikat?"
"Lihat di TV."
"TV saja kamu jadikan sanad, kok Imam Syafii tidak pakai sanad."
Kau ditanya;
"Kau kok tahu ketua DPR tersangka?"
"Dari TV."
Sanadmu berarti dari TV. Kau tidak bisa bilang, "Tahu sendiri."
Tidak mungkin kau tahu KPK ketika sedang menyidik.

Sekarang saya tanya:
"Nabi bilang begini. Tidak usah ulama, Nabi langsung."
"Bagaimana kau tahu Nabi berkata demikian?"
Kalau kau jawab lewat mimpi, kalian persis Dhimas Kanjeng jadinya. 🤣
Mau tidak mau kalian harus menyebut guru, makanya ada tradisi menyebut sanad, disebut menyebut ulama.
Tapi santri2 sekarang juga kadang goblok. Ada orang yang bilang: "Nggak ada ulama, yang penting Nabi. Ulama itu bisa salah. Kalau Nabi SAW nggak bisa salah."
"Lha bagaimana kalian tahu kalau Nabi nggak pernah salah? Kata siapa?"
"Kata ulama."
Lhah, kok kata ulama. Katanya sudah tidak percaya ulama. Makanya kalau goblok itu jangan keterlaluan. Goblok kok mengajak orang 🤣
Saya itu juga heran dengan orang modern itu. Goblok kok sampai demikian itu bagaimana? Sanadnya itu bagaimana?
Makanya dalam ilmu thariqah, ilmu hakekat, masyhur pepatah:
لولا مربي لما عرفنا ربي
ولولا العلماء لما عرفنا الانبياء
Laula murabbi: Seumpama tidak ada yang mendidik diriku,
lama arafna rabbi: tentu kita tidak mengerti tuhanku itu siapa
Kita tahu tuhan karena ada yang mengajari. Kau tidak bisa misal Rukhin langsung tahu tuhan. Tidak bisa kecuali diajari gurunya bahwa tuhan itu: wujud, qidam, baqa.
Itu dikenalkan gurunya, tapi lalu lama-kelamaan kok menjadi sok, seolah sok sudah wushul. Itu hanya engkek saja! 🤣
Hakekatnya wushulnya lewat guru. Kalian tahu Kanjeng Nabi SAW karena (lewat) saya.
Misalnya saya itu muridnya Mbah Moen
Mbah Moen murid Mbah Zubair
Mbah Zubair murid Mbah Faqih Maskumambang
Mbah Faqih Maskumambang murid Mbah Mahfud Termas
Mbah Mahfud Termas murid Sayyid Abi Bakar Sattha
Sayyid Abi Bakar Sattha itu yang mengarang Ianatutthalibin
Sayyid Abi Bakar Sattha murid Sayyid Zaini Dahlan
Sayyid Zaini Dahlan murid Sayyid Utsman Addhimyati
terus hingga Imam Syafi'i

Kalau sudah sampai ke Imam Syafii sudah gampang:
Imam Syafii murid Imam Malik
Imam Malik mempunyai guru Ibnu Syihab Azzuhri
Ibnu Syihab mempunyai guru Imam Nafi'
Imam Nafi' mempunyai guru Abdullah bin Umar
Abdullah bin Umar menangi (mengalami era) Kanjeng Nabi Muhammad SAW
Kalian harus hapal sanad. Kalau tidak hapal ya nggandol saja: "Pokoknya kata Gus Baha' begitu." 😆
Lha itu gampang sudah. 😂
Sudah ada ahlinya, tanya saja, nggak usah susah2.
Sehingga karena nanti klaim tentang Nabi itu bias, dibikinlah kriteria: siapa yang sanadnya paling akurat tentang tauhid. Kita menyebut Abul Hasan Al Asy'ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Siapa yang paling akurat dalam sanad ilmu Tasawuf, kita menyebut Abul Qasim Al-Junaidi dengan Imam Ghazaliy. Siapa yang paling akurat dalam sanad fiqih, kita menyebut misalnya: Abu HAnifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Ini urutannya sesuai periode.
Sanad fiqih itu misalnya begini. Kalian kalau tidak percaya, neraka!
Tentang iddah istri yang dicerai, kita nggak bisa nuruti al-Quran, karena ngendikane mujmal:
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ
orang yang diceraikan suaminya, iddahnya tiga kali qur'un.
Abu Hanifah kemudian berpendapat qur'un itu suci, sedang Imam Syafii qur'un itu haid.
Pertanyaannya adalah:
Trus kamu mentang2 tanpa guru, apalagi lihatnya terjemahan, ngomong begini:
"Yang penting kata Allah kalau dicerai itu iddahnya 3 kali masa suci atau masa haid."
Oklah, di atas tadi kebalik, yang Imam Syafii itu suci, yang Abu Hanifah itu haid. Karena mirip2lah, makanya saya bolak-balik. Khilafnya itu lafdzi klo dlm fiqih, sampeyan tidak perlu tahu detailnya.
Pertanyaannya adalah bagaimana kalau tidak haid:
wanita hamil dan menopause.
Akhirnya kita tahu bahwa itu tidak memasukkan muthallaqat yang dicerai posisi hamil. akhirnya yang hamil tidak ikut ayat itu tapi ikut:
وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
bagi yang hamil, iddahnya melahirkan
Kalau yang dengan haid, tren iddah 3-4 bulan. Kalau diceraikan keadaan hamil, iddahnya berapa bulan?
Ini yang akhirnya menjadi debat kusir antara para sahabat. Tidak mungkin saya tunjukkan sanadnya hingga Imam Syafii.

***
Sepenggal pengajian Gus Baha' Tafsir Jalalaian QS Ankabut ayat 64.
Lanjutannya ada di:
https://www.facebook.com/groups/386305265399880/permalink/426200424743697/

Gus Baha': Salam dan Salaman (Berjabat Tangan)

Makanya hidup yang benar itu begitu: kalian kalau jadi kyai yang ikhlas. Tapi kalau umat sudah niat memberi kyai, kyai ikhlaslah ya tetap diberikan, jangan terus nggak jadi. 😆
Jadi sama2 benarnya.
Tapi kyai juga nggak boleh tamak. Saling menjaga tradisi masing-masing.
Contoh Nabi Musa dan  Nabi Syuaib:
"kita ini keluarga yang punya tradisi kalau beramal tidak ingin imbalan."
Dijawab:
"Kita ini punya tradisi kalau orang berjasa akan kita hormati. Kalau ada tamu kita hormati."
Saling menjaga tradisi masing-masing.
"Tebarkanlah salam/perdamaian di antara kalian, niscaya kalian saling menyayangi."
"Tebarkanlah salam/perdamaian di antara kalian, niscaya kalian saling menyayangi."

INSYAALLAH dan SALAM

Nabi Musa diburu Firaun dan bala tentaranya, Dhawuh Nabi Syuaib:
لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
"Aja wedi sira, slamet sira saking kaumdzalim."

Jadi tidak semua nabi bilang insyaallah. Insyaallah itu sunat, kadang bilang kadang tidak. Nyatanya Nabi Syuaib juga bilang langsung:“La takhaf najauta minal qaumidz dzalimin”
Tidak ada insyaallahnya: “La takhaf insya allah najauta minal qaumidz dzalimin” 😆
Semua itu kadang Insya Allah kadang tidak. Kanjeng Nabi sendiri kadang insyaallah kadang tidak. Pokoknya barang tidak fardlu ain itu tidak terus-menerus.

Makanya Imam Bukhari mempunyai BAB SALAM
Orang yang ingin sama2 senangnya, afsyussalama bainakum, kalau ketemu teman, uluk salam.
Tapi Imam Bukhari punya tabwib (pemilahan):
1. Sapaan Kanjeng Nabi SAW ke Sayyidah Fathimah
Kanjeng Nabi dengan Sayyidah Fatimah jarang salam. Kanjeng Nabi menyapa fatimah:
ﻣَﺮْﺣَﺒﺎً ﺑِﺎﺑْﻨَﺘِﻲ
"Marhaban, bibnati!"
"Duh, Ndhuk. Betapa senangnya diriku bertemu denganmu."

2. Sapaan Shahabat ke Sayyidina Ali
Lalu shahabat2 pernah bertemu Sayyidina Ali juga:
كيف أَصْبَحتَ؟
"Kaifa ashbahta?"
""Bagaimana keadaanmu, Ali?"
الحمد لله أصبَحتُ على خَيرٍ
“Alhamdulillah ala khairi.”
"Alhamdulillah baik."

Itu menunjukkan bahwa setiap orang Islam bertemu tidak selalu redaksinya salam.
Yang suka salam terus ya orang Betawi itu, tiap bertemu salam. Setiap waktu uluk salam, sampai cina-cinanya. Matekna uwong tenan! 😆😂
Nyatanya setahu saya kyai2 alim juga biasa: kadang salam kadang tidak. Karena Nabi juga begitu, bertemu Sayyidah Fatimah juga dhawuhe "Marhaban, bibnati!". Shahabat bertemu Sayyidina Ali juga: "Kaifa ashbahta?"
Samalah saya dengan Musthofa juga ga selalu salam, "Masih hidup, Mush?" 😆
"Sehat?"😊
"Waras?" 😊
"Otaknya?"😂

Itu tidak selalu, tidak tiap bertemu harus selalu:
assalamu’alaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh
Terus harus dijawab wa’alaikum salam warahmatullahi ta’ala wa barakatuh
Repot. 😆
Maksudnya orang itu juga  harus mikir to. Tidak terus meneruslah. Misalnya:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ 
Tapi kadang insyaallah kadang tidak. Nabi Syuaib bilang:
لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Tidak ada insyaallahnya misal “La takhaf insya allah najauta minal qaumidz dzalimin”

Makanya Imam Nawawi dalam muqadimah kitab Majmu' berkata bahwa Nabi SAW punya sekian perilaku, dan dalam hal yang tidk fardlu 'ain, Nabi SAW tidak konsisten untuk menunjukkan bahwa barang itu tidak wajib.
Paham ya.
Makanya kau shalat qabliyah juga yang sering. Saat meninggalkannya tidak usah diajari karena sudah sering. 😆 Tapi jangan qabliyah terus, nanti seperti fardlu 'ain.

Nah ini di ayat selanjutnya Nabi Syuaib: pakai insyaallah.
Yang ayat sebelumnya tadi tidak.

Kadang santri2 kebablasan, disuruh apa saja bilang insyaallah. Kok kelihatan nggak sungguh2 begitu. 🤦‍♂️
Nyatanya tidak ada shahabat yang dibaiat Nabi terus menjawab insyaallah, padahal ajaran nabi.
“Cung, ayo perang Uhud, ikut!”
Tidak ada yang bilang insyaallah, semua bilang sami’na wa atha’na.

SALAMAN

Di antara aturan Islam, kita harus punya kepastian "ini halal, ini haram" yang dari ketentuan Allah SWT. Jangan sampai kau bikin hukum sendiri.
Maka yang paling selamat seperti itu orang fiqih (maksud saya fiqh yang waras 😆), karena dia akan terus menyampaikan.
Seperti saya ini misalnya, saya ini tidak suka berjabat tangan. Tapi saya suka salaman, karena saya tahu haditsnya: orang ketika salaman dosanya luruh.
Misalnya saya dengan Musthofa berjabat tangan, dosanya Musthofa jatuh. Kalau saya entah jatuh apa tidak, wong nggak terlalu banyak. 😆
Kalau sudah kebanyakan kan mudah jatuhnya. Sudah genting mau jatuh. 😂
Tapi banyak juga ulamna yang tidak mau salaman. Misalnya Uwais al Qarni, Abdullah bin Mas’ud, tidak suka salaman. Alasannya juga masuk akal: "Yang mencucup menjadi hina, yang dicucup rawan ujub."
Nggak lucu kan, misalnya Rukhin kan macho kok sama saya sungkem?
Ya kalau kau sudah orang-orang soleh seperti Mbah Moen, Mbah Arwani tidak akan rawan ujub. Tapi kalau kau orang kecil kan rawan ujub. Kyai anyaran suka dicucup

***
Sepenggal pengajian Gus Baha', tafsir Jalalain Al-Qashash Ayat 25 
Catatan:

  • Secara bahasa, salam berarti: perdamaian, keselamatan, salam hormat, salam sejahtera 
  • Bab mazhab "insyaAllah" ini sebenarnya Gus Baha' pernah membahas dalam pengajian lain. Ada shahabat yang mewajibkan insyaallah, hingga akhirnya bertemu pendapat shahabat lain dan akhirnya beliau mencabut fatwanya. Entah di rekaman yang mana saya lupa.

Gus Baha': Kisah Kodok Dan Cicak (Fiqih Mashadiq/Maqashid Ala Abu Hanifah)

(Latar Belakang Gerakan Kodok Ngorek Engkek = Korek Engkek)


Abu Hanifah itu sukanya memakai metode fiqih mashadiq. fiqih mashadiq itu "begitu saja sudah bagus".

Imam Syafii tidak, dia fiqih detail.

Itu kan nggak sambung. Ya memang dari awal nggak sambung.

Misal nabi dhawuh; thawaf itu spt shalat, tapi membolehkan omongan. Sehingga imam syafii yang mewajibkan suci hadats besar hadats kecil. Tapi Abu hanifah beda: nggak bersuci gpp. Buktinya thawaf itu lari-lari. seumpama spt shalat beneran kan ngga boleh lari2. kan batal. trus thawaf tidak menghdap ka'bah. shalat kan harus menghadap ka'bah. Jadi nggak sambung. yg satu begini yg satu begitu.

Makanya klo saya klo ada ada thawaf saya mantap semuanya sah. Karena ada tren, mashadiq, keceluk ngono.
Fiqih Mashadiq/Maqashid Ala Abu Hanifah
Gus Baha': Kisah Kodok Dan Cicak


MASHADIQ ABU HANIFAH


Mashadiq itu begini:
ma yashduqu 'alaihi kadza, wis keceluk ngono, maka sah
Contoh:

Pondok ini terbakar
Terus ada kodok kecil mengambil air pakai mulutnya, lalu disemprotkan ke api. Kira2 air si kodok bisa bikin apinya padam atau nggak? Nggak kan? Tapi tindakan itu tindakan terpuji, bukti cinta. Bagaimanapun dia sudah ikhtiar ikut  memadamkan api yang melalap pondok pesantren.

Terus datanglah cecak. Ia malah menghembus2 api supaya apinya membesar. Kira2 tiupan cecak bikin tambah gede nggak? Nggak kan? Tapi menjengkelkan!

Oleh karena itulah nabi muhammad melarang membunuh kodok karena bagaimanapun berjasa ikut ribet membunuh api yg dinyalakan Namrud yg dipakai membakar Ibrahim.

Cecak ikut meniupi apinya. Itu membuat cecak jadi kesunanatan dibunuh. Tapi kau nggak usah mencari cecak terus. Ntar mentang2 nggak bisa ibadah lain akhirnya memburu cicak terus. , 🤣🤣🤣

(Yang penting kita tahu bahwa) yang dihitung itu "menjengkelkan" dan "tidak menjengkelkan"

Ya, kayak ngaji ke saya trus kalian ngobrol sendiri, itu menjengkelkan kan?

Sedangkan santri yang lain menyimak. Meskipun umpama sama2 saja hasilnya kalian juga tidak akan mengerti, meski mendengarkan juga nggak paham, 🤣🤣🤣🤣 tetap yang satu dihukumi menjengkelkan, yang satu menyenangkan. Nggak usah tersinggung ya, ini contoh. Ya (Kyai) Nif ya, sudah brewok kok tersinggungan. 🤣🤣🤣

Si kodok pun tahu bahwa api tak akan padam dengan airnya, tapi itu bukti mahabbah. Meniup api bukti benci.

Contoh lain, Ada tetanggamu yang dengki denganmu. Dia melihat kamu makan, maka dia meludah. Meski jauh dari tempatmu makan, kamu jengkel nggak? Jengkel kan? Padahal tidak kena wajahmu sama sekali.

Makanya saya lihat kalian ngaji datang di depan saya saja sudah senang hati saya. Kalian paham nggak itu nggak penting. Itu sudah menyenangkan. Meski jika kalian ditanya apa saja akan menjawab, "nggak paham", itu tetap menyenangkan. (Begitu saja sudah bagus.) 🤣🤣🤣

Nah, Abu Hanifah itu penganut mazhab metode ini. Mengapa thawaf tidak wudlu kok sah? Namanya thawaf ya muter.

****

Sepenggal Pengajian Gus Baha'
Tafsir Jalalain al-Maidah 109-116

Mohon dikoreksi jika keliru kaidah fiqihnya yg berbahasa Arab

Latar belakang usaha saya membantu mengubah teks dalam bentuk tulisan. 
Korek Engkek 

PERINGATAN: DI AWAL REKAMAN, ADA BUNYI BERISIK memekakkan telinga!! Jangan pakai headset
File:
https://drive.google.com/file/d/1c2p-CVxerN_OQDmlOcmiY-aRzvGqbh5M/view?usp=sharing

Fiqih Shalat Gus Baha'

TEMA: SHALAT (sementara, saya kumpulkan)

WUDLU 

Posisi pembahasan:
https://www.youtube.com/watch?v=ZG13K41HKRc&t=113s

TAKBIRATUL IHRAM

https://www.youtube.com/watch?v=803atOZnrIE&t=02m11s

IFTITAH 

https://www.youtube.com/watch?v=0_HYVEozwW4

Shalat Maghrib, karya Otto Pilny
Shalat Maghrib, karya Otto Pilny

SEDEKAP

https://www.youtube.com/watch?v=dtX0R7GR2LE&t=37m33s

ALFATIHAH  

Bismillah
Surat Al-Kahfi 1-7
https://www.youtube.com/watch?v=hS_Tk5_1eOQ
https://www.youtube.com/watch?v=lc0kIT_P4BQ&t=139s

Shirat (Ihdinashiratal mustaqim)
https://www.youtube.com/watch?v=wMrHwLDXWeY&t=03m40s

SURAT 

https://www.youtube.com/watch?v=OMX0PLubMWk

I'TIDAL 

Pengajian Gus Baha' di Gimcheon Korea Selatan, dalam rangka Milad Masjid Al Khaliq Gimcheon, Korea Selatan, 12 September 2019
https://www.youtube.com/watch?v=exyKG9CvX5s&t=10m04s

SUJUD 

Tafsir Jalalain Surat Al_ankabut 1- 8
https://www.youtube.com/watch?v=7GzzedgtqTU
https://www.youtube.com/watch?v=zojTYuttOUw

Hakikat Sujud (Menyembah, Tauhid, Hidup)

https://www.youtube.com/watch?v=LqL8fyLQr_I

ISYARAT TELUNJUK

https://www.youtube.com/watch?v=dtX0R7GR2LE&t=36m30s

TAHIYAT

Tahiyat Awal

Tahiyat Akhir

WIRIDAN

https://www.youtube.com/watch?v=dtX0R7GR2LE&t=35m00s

FIQIH SHALAT 

Tarawih, Witir 

https://www.youtube.com/watch?v=UYewq57WM3Q

KERINGANAN SHALAT

https://www.youtube.com/watch?v=dtX0R7GR2LE&t=33m00s

KHUSYU

Pengajian Gus Baha di Gimcheon Korea Selatan, dalam rangka Milad Masjid Al Khaliq Gimcheon, Korea Selatan, 12 September 2019
https://www.youtube.com/watch?v=Qoo0C4f3554

PENANGKAL WASWAS 

Bahaya Waswas 

https://www.youtube.com/watch?v=mjeaxNUCRUQ

Jangan takut Waswas Setan 

https://www.youtube.com/watch?v=HDkWdaoP0WY

Shalat orang Abangan, Sujud    

https://www.youtube.com/watch?v=4qhPOXjLwgY

Ragu Al-Fatihah 

https://www.youtube.com/watch?v=LqL8fyLQr_I&t=40m35s