Masjid Al-Ikhlas

Gus Baha': Makna Mengabaikan Al-Quran dan Nahi Munkar (Supaya Tidak Jadi Khawarij)

Doa Pembuka: (Alfatihah)

Jadi saya jelaskan ya.
Kelak ada kitab yang namanya Syikayatul Quran,yaitu Al-Quran yang kita baca mengadu ke Allah (syikayah itu mengadu), karena nasibnya ditinggalkan, maksudnya tidak dipedulikan.
Saat nanti sowan ke Allah, Nabi SAW mengeluh:
يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Gusti, nasib Al-Quran itu sudah dibiarkan

Makna Mengabaikan Al-Quran

Dibiarkan itu maknanya begini:
Ini di tafsir Showi, saya bacakan supaya tidak menjadi khawarij.
Membiarkan itu ada yang kulliyah/total, bahkan tidak diyakini sebagai kalamullah/wahyu. Itu kafir tulen, benar-benar kafir.
Ada yang membiarkannya semi, agak iya agak tidak. Iman juga, tapi nggak paham. Jika ingin paham, ya pura-pura paham. Ini ruwet. 😆😆Ini banyak sekali. Dan itu juga muslim. Tetap muslim tetap mukmin, tapi dianggap fasiq.
Misalnya contoh gampang begini. Ini saya baca ya, jadi supaya Anda tidak menjadi khawarij. Saya bacakan Arabnya, nanti saya jelaskan:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Jadi ini Kanjeng Nabi SAW itu mengeluh Al-Quran itu diabaikan oleh orang kafir

(Gus Baha' membacakan tafsir shawi di bawah)


Tafsir Shawi Al-Furqan ayat 30
Tafsir Shawi Al-Furqan ayat 30

Jadi begini ya. (Ini) dhawuhnya Imam Shawi sebagai pensyarah Jalalain dan dhawuh ini pasti benar. Saya pastikan benar karena saya berkali-kali membaca di Shahih Bukhari, dan saya ajarkan di Sarang, di mana-mana, saya ulang-ulang.
Ayat ini bagaimanapun juga turun pada orang kafir yang i'rad (meninggalkan) Al-Quran itu artinya tidak menganggap itu sebagai kalamullah.
Tapi kalau orang mukmin seperti kita-kita ini meninggalkan Al-Quran dalam arti tidak mengamalkan, itu hanya fasiq. Fasiq pun kadang2 tidak jadi fasiq, karena ketaatannya lebih banyak.
Misalnya begini contoh mudahnya:
Ada orang maniak perempuan: Dia zina tidak mau, tapi kalau tidak cangkrukan di perempatan melihat perempuan cantik, kepalanya pusing. 😆
Banyak lho. Orang Islam itu mayoritas juga seperti itu. Kelakuannya begitu. 😂🤣
Nah, dia ngerti bahwa itu salah menurut Al-Quran, karena:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ 
Orang mukmin itu kalau bisa berpejamlah, jangan sampai melihat perempuan yang bukan mahram bukan istrinya ...
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
... dan menjaga farjinya dari zina

Jadi dia separuh sukses. tapi kalau nggak memandang, nggak sukses. 😆
Nah itu nanti untung2an. Kalau Allah pas dengan itu ya akan memaafkan. 😆
Misalnya ya Islamnya sudah lama, sudah jenggoten, macam2, dimaafkan 😂
Apalagi yang sudah ditakdir melarat seperti Rukhin, Sudah diampuni. 😆 Melaratnya itu kafaratnya,

Macam2. Ada juga orang alim. Biasanya dosa terbesar orang alim itu tidak berani nahi munkar karena tidak punya nyali atau punya perhitungan khasnya orang alim. Itu nanti kena khitab:
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ
Mestinya orang2 terpelajar itu harus mencegah kemunkaran.

Lha itu biasanya orang alim nggak punya nyali, karena tidak punya otoritas. Misalnya di Indonesia:
Dia tidak berhak (memiliki kuasa, atau surat sah kuasa) membubarkan Dolly. Lebih mudah walikota. Kyai hanya bisa berteriak zina itu haram, Dolly itu haram, tapi tidak punya otoritas membubarkannya.
Masih mendingan walikota, dengan SK pengangkatannya bersama Satpol PP-nya membubarkan Dolly. Dulu di Jakarta yang bisa membubarkan Kramat Tunggak itu Walikota Sutiyoso. Dolly di Surabaya yang bisa membubarkan walikota yang sekarang, perempuan dan malah dari PDI-P, bukan dari PKB. 😂
Ini kan ilmiah saja, tidak usah tersinggung. Itu faktanya ya seperti itu. 😂

Tapi ulama kalian bilang kalah dengan walikota perempuan yang membubarkan Dolly juga keliru. 
Hitung saja: orang yang tidak berzina karena didikan ulama mulai dari kelas kecil TPA, itu jutaan. Taruh saja Musthofa punya murid 20. Ada orang punya murid 100. Orang yg dididik antizina oleh ulama itu hasilnya jutaan mungkin puluhan juta dan mungkin mereka punya generasi yang ber-evolusi antizina sampai mati.
Seperti itu namanya juga nahi munkar karena makna nahi munkar itu al intiha anil munkar, pokoknya kejadiannya tidak jadi munkar. 

Itu yang saya sesali dari para mubaligh. Mubaligh itu sering bilang nahi munkar itu seperti membubarkan Dolly.
Tidak seperti itu saja, tapi juga setiap kemunkaran yang dihentikan, itu namanya nahi munkar
Makna nahi itu mencegah, artinya tidak melakukan atau tidak terjadi.
Dan itu ulama berkontribusi besar, hampir semua pondok. Saya baru membuka hal ini. Saya pernah bercerita ini ke Kyai Rumanto:
"Mas Rum, bikin pondok itu tidak usah sungguh2. Pokoknya ngaji, shalat menghadap ke kiblat., umumnya pondok. Ga usah menghasilkan santri alim, kalau untung ya dapat santri alim, kalau tidak pas momennya  ya sudah. paling tidak kelebihan pondok itu satu, misalnya kyainya tidak alim, atau agak tidak benar, ada kesepakatan menabukan zina. Ini kelebihan pondok, ada kesepakatan mentabukan; zina, mencuri, melakukan sesuatu asusila. sehingga kita punya konsensus dengan tradisi pondok TPO/TPA, di mana barang buruk dihukumi buruk." 
Kau tidak usah membayangkan ideal:
hafidz sampai lancar,
dilombakan sampai menang,
laris, 😆
tidak usah begitu, tidak usah berlebihan spt itu.
Ini penting saya utarakan.
Mencuri juga begitu. Polisi menangkap maling itu nahi munkar karena malingnya tidak jadi maling
Tapi jutaan orang yang tidak maling, yang tidak pernah maling, itu karena didikan ulama. (Ini juga nahi munkar).
Polisi menangkap yang pernah maling, ya nahi mungkarnya yan terlanjur maling. Membubarkan Dolly karena yang sudah kadung zina.
Kalau ulama malah mendidik santri mendidik umat mulai kecil,dan banyak jutaan yang bahkan tidak pernah zina karena didikan ulama. Mulai dari yang pakai kharizma sampai yang menakut-nakuti sopor diiris alat kelaminnya. 😆
Itu modele Rukhin yg bisa menjelaskan: kelak yang zina ditusuk alat kelaminnya. Kalau saya tidak tega. 😆
Macem2 lah penjelasannya.
Nah itu. Saya ulangi lagi:
Bahkan di antara akidah alussunah:
Ini dengarkan sungguh2, kalian boleh nggak cocok, tapi klo gak cocok itu keliru, neraka kalian, karena ini nashnya Allah:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
Orang yang sukses menghilangkan dosa besar, itu insyaAllah dosa kecilnya dimaafkan

Jadi misalnya seperti Rukhin biasanya di perempatan jalan lihat perempuan, juga ditulis oleh Allah:
mata Rukhin dosa
hatinya berangan-angan, tetapi tidak berhasil
Ditulis terus oleh Allah
Tapi dia sukses meninggalkan zina: pokoknya aku klo melihat mau, kalau zina tidak akan!
Itu bisa saja di akhirat diampuni karena berkah meninggalkan dosa besar.

Misalnya kau benci pada tetangga, lalu menggunjingnya. Menggunjing itu berdosa.
Tapi bisa saja diampuni karena tidak membunuh tidak menyantetnya.

Jadi di semua segmen dosa itu kan ada kategorinya kelas berat, kelas ringan.
Misalnya nggak cocok dengan orang lain, dosa kelas atasnya membunuh. Kelas ringannya menggunjing.
Senang perempuan, dosa kelas beratnya zina, kelas ringannya memandang.
Itu kelak bisa saja barokah menjauhi dosa besar, dosa kecilnya diampuni.
Intajtanibu:
Jika kamu menjauhi dosa besar,
nukaffir 'ankum sayyiatikum
Biar orang2 zuhud tidak percaya lah, bagaimanapun juga itu dhawuh Allah.
jadi harus iman dan ini menguntungkan.  😆
Paham ya.
Pokoknya asal berhasil menjauhi yang besar, yang kecil diampuni.

Tapi pertanyaannya, menurut Fathul Mu'in, adalah: 
Masalahnya adalah yang kecil-kecil itu terus-terusan dan telanjur menumpuk menjadi besar. 
🤣🤣
Sengsara sudah. 😆 Nggak jadi kecil, karena akumulasinya menjadi besar.
Makanya ketika menerangkan wahyu ini, Nabi SAW sempat bercanda bertanya:
Kau tahu gunung? dhawuh Kanjeng Nabi SAW
Demikian besarnya gunung itu berasal dari butiran pasir kecil-kecil. Jadi bisa saja dosa Rukhin yang kecil-kecil itu sudah jadi gunung dosa. 😆

Karena itu kata Fathul Mui'in dalam menakrifi orang shaleh itu siapa? Yaitu "orang yang taatnya lebih banyak daripada maksiatnya." Bukannya tidak maksiat, karena nggak mungkin.
Cuma masalahnya akumulasi maksiat ini kan tinggi sekali.
Misalnya contoh mudah
maksiatnya orang melarat:
Di perempatan memandangi perempuan
Di perempatan menggunjing orang kaya
Hasut (dengki) terhadap orang
Bertengkar dengan istri

Maksiat orang kaya sama saja:
memandangi perempuan, ini penyakit orang kaya dan miskin, sama saja  😂
sombong,
menyepelekan orang,
membanggakan hartanya,
Sama saja.

Asal kamu bisa menghilangkan yang besar, insyaAllah ada kemungkinan besar yang kecil diampuni. Tapi syaratnya harus tetap kecil, karena gunung itu besar karena akumulasi butiran pasir yang kecil-kecil. Kalian kira gunung itu apa? Ya kumpulan batu-batu kerikil kecil ditumpuk hingga sebegitu besarnya itu. Gambar dinosaurus itu akumulasi dari titik-titik kecil yang disambung, dipenuhi itu kertas. Hanya sedikit yang bersih dari coretan.

Makanya ta'rif taat itu adalah tidak pernah melakukan dosa besar, dan tidak terperosok dosa kecil.
Itu yg disebut:
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا
Tidak terperosok
Orang seperti ini tidak bisa dikatakan kafir atau murtad. Hanya khawarij yang secara goblok mengatakan orang seperti ini menjadi keluar dari Islam.
Kalian tidak usah bermusuhan dengan orang Islam. Kalaupun musuhan ya yang ringan2 saja.
Misalnya:
Saling mendiamkan dengan pasangan, bergosip dengan tetangga, pokoknya jangan menyantet jangan membunuh. Paham ya. Klo tidak cocok ya cukup bergosip, bikin grup gosip sendiri: geng kecewa. 😆

Misalnya pengurus masjid yang terdepak, akhirnya bikin kelompok antitakmir yang sekarang. Nanti dia yang maju menjadi pengurus, yang turun gantian menggunjing. 😆Cukuplah pakai kegiatan geng kecewa menggunjing. Menurut saya itu bagus. Yang penting tidak dihalalkan, menggunjing itu barang haram, tapi daripada jadi bisul, ya menggunjing saja, yang penting tidak membunuh, itu disebut:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
Kalau kau berhasil menghilangkan dosa besar, insyaAllah yang kecil diampuni.

Makanya akidah ahlussunnah, meskipun orang itu tidak istighfar tidak bertaubat, tapi kalau menghindari dosa besar, dosanya yang kecil dihilangkan.

wa bijtinabin lilkabair tughfaru shaghairu wa jalludzu yukaffiru
Orang jika berhasil menghilangkan dosa besar, dosa kecil dihilangkan oleh Allah

Tapi itu tadi syaratnya kalian ingat2: yang kecil tetap kecil.
Beras sekarung itu dari butiran beras2 kecil.
Lha ini penting saya peringatkan. Ulama harus terus menyampaikan begini ini.

Doa Penutup:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
(7x)

***
Transkrip dari video Ndherek Para Kyai:
https://www.youtube.com/watch?v=WSi3kWyggH8

Baqarah Sapi Betina atau Jantan?

BAQARAH, SAPI BETINA ATAUKAH JANTAN?


Saya kemarin mencoba mencari tahu tentang tsaur: shorturl.at/cpBKY  . Karena menemukan definisinya di website tafsir, maka saya anggap cukup buat saya. بَقَرَةٌ di situ diterjemahkan:
 أنثى الثور

Referensi: https://tafsirweb.com/382-surat-al-baqarah-ayat-67.html

Tapi rupanya hal itu menari perhatian Mas Muhammad Umar Faruq, yaitu kata baqar yg saya sandingkan sebagai lawan kata tsaur.
 Alhamdulillah jadi berkah ilmu Gus Baha' walaupun luru2 di Google ya mohon maaf, sudah takdir saya tdk punya guru kyai, Gus Baha' pun dapat dari internet. 😆.
Jadi  tulisan2 saya di sini waton nulis saja. Jadi jangan dipakai untuk hujah. Anggap saja sekadar bacaan pengisi waktu senggang.

Coba saya Google-kan ya.

Baqarah Sapi Betina atau Jantan?
Baqarah Sapi Betina atau Jantan?

BAQAR MENURUT KAMUS ITU NETRAL

https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/بقرة/

Makna2 baqar di kamus2 itu kira2 mirip dengan definisi yang diberikan Wikipedia tentang lembu.
Wiki mendefinisikan lembu sebagai sapi yang telah dikebiri dan biasanya digunakan untuk membajak sawah.
T̶a̶p̶i̶ ̶j̶i̶k̶a̶ ̶d̶i̶l̶i̶h̶a̶t̶ ̶k̶a̶t̶a̶ ̶k̶e̶b̶i̶r̶i̶ ̶d̶i̶ ̶s̶i̶t̶u̶,̶ ̶j̶e̶l̶a̶s̶ ̶l̶e̶m̶b̶u̶ ̶i̶t̶u̶ ̶b̶e̶r̶a̶r̶t̶i̶ ̶s̶a̶p̶i̶ ̶j̶a̶n̶t̶a̶n̶.̶ ̶ Update: tenyata kebiri itu istilah utk jantan maupun betina.
Di kamus2 bahasa Arab, baqar itu jenis sapi (bisa jantan atau bis juga betina, bisa termasuk الجاموس) yang dijinakkan dan dipakai sebagai hewan ternak untuk diambil susu dan dagingnya, dan dipakai untuk membajak.
Saya setuju jika diterjemahkan lembu. Menurut saya yg nggak ngerti bahasa Arab, lembu mendekati arti yg kamus Arab itu. 😂
Ngomong2 saya dulu pernah debat ttg penerjemahan makna cow, ox, dan bull. Teman saya ga terima saya bilang bull itu sapi jantan. Mereka bilang banteng. 😂 Ya sudahlah. Saya sih suka mengotak-atik dan menelisik kata2 begitu.
Tapi yg paham biasanya anak jurusan biologi bisa menggolong2kan kata spesifik begini untuk penanda taksonomi. Tentang beragamnya jenis2 sapi bisa dilihat di:
https://id.wikipedia.org/wiki/Sapi

KONTROVERSI PENERJEMAHAN BAQAR 

1. MENURUT BUKU 

BAQAR ITU BISA NETRAL (sebagaimana kamus di atas)

Setidaknya ada satu buku yang membahas ttg kontroversi penerjemahan baqarah saya ketik di bawah ini:
Menurut az-Zuhaily, penerjemahan makna-makna Al-Quran ke dalam bahasa asing hukumnya boleh dengan catatan harus tetap diyakini bahwa terjemah Al-Quran, bahkan tafsirnya dalam bahasa Arab sekalipun, bukanlah Al-Quran. Az-Zuhaily menambahkan bahwa mengistimbatkan hukum dari teerjemahan Al-Quran tidak diperkenankan karena pemahamannya sangat rawan mengandung kesalahan yang timbul akibat kesalahan penerjemahan.
Karena penerjemahan Al-Quran bukanlah pekerjaan ringan, meskipun tidak berarti mustahil oleh orang yang berkesanggupan dan berkemauan keras, ia tetap memberi kemungkinan bagi adanya kekeliruan. Kekeliruan ini merupakan hal yang bisa dipastikan adanya, baik terjemahan yang dilakukan oleh perseorangan (individu) maupun kolektif. Dalam Al-Quran dan Terjemaahnya yang disusun oleh Tim Ahli terdiri atas ulama terpandang dan diterbitkan Departemen Agama Republik Indonesia, misalnya, tetap saja ada kekeliruan atau kesalahan. Salah satu contohnya sebagai berikut.
Kata baqaratun yang diterjemahkan sapi betina, baik nama surat al-Baqarah itu sendiri maupun penerjemahan setiap kata baqaratun yang terdapat pada surat al-Baqarah ayat 67, 68, 69, 70, dan 71. Penerjemahan ini patut diduga kuat berdasarkan pemuanatsan (pewanitaan) kata yang menggunakan huruf ta' marbutha (baqaratun). Padahal, menurut Raghib al-Asfihani, baqaratun adalah kata tunggal dari kata (jamak) baqaratun atau al-baqaru. 

Penulisnya menggunakan istilah beliau mempunyai dugaan kuat. Alasannya adalah di bawah ini:
Bertalian dengan kata al-baqaru, penyusun kamus dalam al-Mu'jam al-Wasith, menyebutkan bahwa penggunaan kata itu bisa untuk jenis mudzakkar (laki-laki, jantan), sekaligus mu'annats (perempuan, betina). Dalam Kamus al-Munawwir susunan Ahmad Warson, disebutkan bahwa kata al-baqaru bentuk jamaknya adalah buqarun, abqarun, atau abaqiru, dan baqirun, serta baaqirun menurut al-Ashfahani. Penyusun Kamus al-Mu'jam al-Wasith, Hasan ath-Thabarsi, dan pengarang kitab Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran juga menyebutkan bahwa kata al-baqarah adalah bentuk isim li al-mu'annats (kata nama untuk perempuan) dari jenis hewan ini, sekaligus bisa menjadi nama bagi hewan sejenis yang jantan.
Jika kata baqaratun bisa digunakan untuk makna mudzakkar sekaligus mu'annats, hemat kami, akan lebih luwes bila kata baqarah dalam surat al-Baqarah diartikan dengan sapi atau lembu saja. Jadi kata al-baqarah bisa berarti sapi jantan, sekaligus betina. Tetapi ketika kata itu diartikan sebagai sapi betina, sapi jantan seolah-olah tidak termasuk ke dalam surat al-Baqarah padahal kata sapi dalam ayat tersebut tidak dikhususkan untuk sapi betina. Menariknya hampir semua (atau setidak-tidaknya sebgian besar) penerjemah dan mufassir Al-Quran di Indonesia seolah-olah ada kesepakatan untuk mengartikan kata baqarah dengan sapi betina atau sapi bikang dalam bahasa Sunda. Sedikit sekali di antara mereka yang mengartikan kata baqarah atau baqar dengan sapi saja, tanpa menambahkan kata betina untuk al-baqarah dan jantan untuk al-baqar. Mereka yang menafsirkan kata al-baqarah atau baqarah dengan sapi betina tampaknya tidak konsisten karena mereka mengatakan kata al-baqar pada ayat 70 surat al-Baqarah dengan kata sapi, tanpa membubuhkan kata jantan, padahal kata al-baqar adalah isim mudzakkar.
Bukunya di:
ULUMUL QUR'AN: Telaah tekstualitas dan Kontekstualitas Alquran oleh Drs. Ahmad Izzan, M.Ag.
https://books.google.co.id/books?id=6VTADwAAQBAJ

2. MENURUT BLOG

Ada satu blog yang membahas ttg ini. Saya copas di bawah ini:
Sebagaimana diketahui bahwa surat “البَقَرَة” diterjemah dengan nama Sapi betina, karena mungkin melihat dzhahir nama Al Baqoroh yang terdapat ta’ Marbuthoh di akhirnya, dimana kebiasaannya ta’ marbuthoh untuk menunjukan isim mu’nats (wanita/betina).
Namun guru kami menyebutkan pendapat lain, bahwa yang dimaksud Al Baqoroh dalam penamaan surat ini bukan sapi betina. Ta’ marbuthoh disitu untuk menunjukan “tunggal”, yakni bahwa kisah penyembelihan sapi ketika Nabi Musa alaihissalam diminta oleh kaumnya untuk memecahkan teka-teki siapa pembunuh sebenarnya, yakni pada saat itu terjadi pembunuhan berencana yang dilakukan oleh salah seorang dari kaumnya, kemudian ia menghilangkan jejak pembunuhannya dan merekayasa tuduhan kepada orang lain yang sama sekali tidak tahu menahu dengan pembunuhan tersebut. Setelah Nabi Musa alaihissalam memohon petunjuk kepada Allah untuk memecahkan permasalahan tersebut, lalu Allah memerintahkan kaumnya agar menyembelih sapi, namun terjadilah apa yang terjadi sebagaimana diberitakan dalam surat Al Baqoroh dan kisah ini “tunggal” hanya terdapat dalam surat ini saja, tidak diceritakan dalam surat-surat lainnya di Al Qur’an.
Jadi ta’ marbuthoh disitu bukan untuk menunjukkan jenis kelamin dari sapi yang disembelih -menurut guru kami- yakni itu adalah sapi betina, namun untuk menunjukkan tunggal dari jenisnya dan ini mencakup jantan maupun betina.
Berikut saya lampirkan penjelasan bahwa ta’ marbuthoh sebagaimana penjelasan diatas dari kitab “Mulakhos Qowaaidul Lughotil Arobiyyah” karya Asy-Syaikh Fuad Ni’mah :
…jika disandarkan ta’ marbuthoh kepada isim-isim jenis ini, maka ini untuk menunjukkan atas satu jantan atau betina dari jenis ini (artinya menunjukkan tunggal sama saja apakah jantan atau betina)…. Kita katakan “الحَماَم” (burung merpati) adalah nama jenis dari spesies burung, untuk mengatakan satu ekor kita katakan “حماَمَة” (ini berlaku untuk jantan dan betina)..

https://ikhwahmedia.wordpress.com/2017/04/09/surat-al-baqoroh-artinya-sapi-betina/

Intinya keberatan Mas Muhammad Faruq sudah terwakili oleh dua referensi di atas. Sekarang kita bahas menga

SAPI JANTAN ATAU BETINA?

Sebelum membahasnya, sebenarnya konon ini adalah pertanyaan Bani Israel yang suka protes. Dan justru itulah yang menjadi tema utama di QS al-Baqarah. 😆

Bani Israil diberi kebebasan mengorbankan sapi apa, tapi terus saja minta kejelasan.
Lihat di buku ini:
Allah Tujuan Kita: Mendekati Allah untuk Meraih Kebahagiaan Hakiki yang ditulis Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. (https://books.google.co.id/books?id=wZixDwAAQBAJ)

Mengapa banyak yang menerjemahkan AL-BAQARAH sapi betina? 

Mungkin ini yang menjadi rujukan:
“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda.” Yakni, sapi itu tidak tua dan tidak muda, juga belum dikawini oleh sapi jantan, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, as-Suddi, Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Athiyyah al-‘Aufi, ‘Atha` al-Khurasani, Wahb bin Munabbih, adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah, dan juga Ibnu ‘Abbas (radhiyallahu ‘anhuma).
di:
https://baitulkahfi.online/surat-al-baqarah-ayat-68-71-shahih-tafsir-ibnu-katsir/

MENURUT KISAH INJIL

Rujukan TAMBAHAN ini bisa jadi adalah yang menjadikan pertimbangan penerjemahan baqar menjadi sapi betina.

Injil lebih jelas mengisahkan Harun dan Musa. Biasanya hewan yang dipakai untuk pengorbanan/dikorbankan adalah yang jantan. Misalnya kambing jantan di hari tertentu. Harun pernah harus mengorbankan sapi jantan. dsb
http://bibledbdata.org/onlinebibles/indonesian_tb/03_016.htm

Kalau untuk perdamaian, korbannya sapi jantan atau sapi betina?

Dijelaskan begini:
Apabila seseorang mempersembahkan seekor sapi untuk kurban perdamaian, sapi itu boleh jantan, boleh betina, tetapi tak boleh ada cacatnya.
http://bibledbdata.org/onlinebibles/indonesian_bis/03_003.htm

Tapi (mungkin karena ditanyai ketegasan sebagaimana di buku KH Nasaruddin), Harun dan Musa disuruh Tuhan untuk mengatakan sapi betina (Bilangan 19:2)

http://bibledbdata.org/onlinebibles/indonesian_tb/04_019.htm
https://al-injil.net/from-taurat-numbers-19-the-cow/

Mengapa kali ini sapi betina?

Tidak ada penjelasan langsung dari kitab suci. Tapi ya masuk akal, karena Allah punya adat melehke, kali ini Bani Israil yang suka protes. Harusnya manusia sami’na wa atha’na.
Baca di sini:
https://id.injil.one/2019/05/01/sign-of-harun-1-cow-2-goats/

Alasan yang sama (sami’na wa atha’na).dikemukakan juga dalam tafsir UII yang akan saya tampilkan di bawah.

MENURUT ETIMOLOGI DAN RUJUKAN LAINNYA

https://en.wiktionary.org/wiki/بقرة#Arabic
https://en.wiktionary.org/wiki/بقر#Arabic
https://arabic.desert-sky.net/animals.html

MENURUT GUS BAHA'

File rekaman saya tidak ada yang membahas Baqarah 67-71. Begitu juga saya cari di YouTube tidak ada. Tapi beliau sering mencontohkan mimpi Nabi Yusuf tentang 7 sapi. Saya buka di pengajian beliau  (QS Yusuf 43) tidak ada menyebut betina.
Karena nggak nemu, langsung saja saya buka tafsir yang Gus Baha' menjadi tim ahlinya. Fotonya di bawah ini.




Saya ga bisa bahasa Arab. Jadi menyuguhkan saja, sapa tahu bisa buat obat mengantuk. 😆
Jika ada referensi dari Gus Baha' tentang jantan betinanya, mohon diberitahu ya di kolom komentar atau grup FB. Matur nuwun.

Sedikit ttg muannats mudzakkar masdar bisa dilihat di video Gus Baha':
https://www.facebook.com/groups/386305265399880/permalink/462939284403144/

Datang ke Perpustakaan, Gus Baha' Diculik Santri untuk Ngaji Bareng

(Latar belakang video yang saya posting kemarin)

Kedatangan Gus Baha di perpustakaan Ma’had Aly Ponpes Salafiyah Safi’iyyah Sukorejo, Sumberejo, Banyuputih, Situbondo saat digelarnya Haul Majemuk sekaligus reuni akbar alumni santri Sukorejo disambut hangat.

Para pengajar dan pengurus Ma’had Aly Situbondo memfasilitasi para hadirin agar dapat bertatap muka dan berdiskusi dalam acara ‘Ngaji Bareng Gus Baha’ (13/1). Benar saja, Gus Baha' hadir secara tiba-tiba. Komplek Ma’had Aly Situbondo riuh, seluruh pandangan menuju ke santri kinasih Mbah Moen ini. Tanpa menunggu lama, beliau sudah duduk untuk memberikan kuliah umum.



Ustaz Wahid, ustaz muda di Ma’had Aly Situbondo yang kesohor sebagai orang pintar ilmu mantiq dan usul fikih itu memandu acara. Ustaz Wahid, begitu ia saya sebut selalu menjadi primadona dalam urusan memoderatori narasumber-narasumber beken. Ia sangat pintar menghidupkan forum-forum ilmiah, dengan permainan logika dan lincah memosisikan kata-kata.

Dalam diskusi siang itu, Gus Baha' banyak menyoroti pentingnya untuk tidsk terjebak dalam tekstualistik dalam memahami Qur’an dan Hadits. Begitu pula dalam mempelajari kitab-kitab klasik.
Menurut Rais Syuriah PBNU ini, kiai yang setiap ngaji tidak bisa guyon itu kurang ‘alim. Itu sebabnya mengapa beliau kerap melontarkan guyonan saat memberi pengajian. Lalu beliau pun mengutip perkataaan mendiang gurunya KH. Maimoen Zubair.

“Mbah Moen pernah mengatakan bahwa kiai yang ndak bisa guyon saat ngaji itu kurang lengkap ilmunya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Maka dapat dikatakan bahwa selera dan kemampuan humor yang menjadi kekhasan para kiai NU ini menjadi penting agar penyampaian pesan bisa diterima dengan baik dan membekas oleh setiap jama’ah.
Melalui humor (guyonan), kiai dapat lebih mudah menyampaikan makna teks-teks yang dapat dikatakan ekstrem dan berat kepada jama’ahnya. Hal ini umum diterapkan di setiap pondok pesantren NU dimanapun di seluruh Nusantara.

“Tafsir itu gampang, tapi pastikan dulu kalian faham fikih, sehingga akan mudah menakwil Qur’an. Itu pasti gampang” katanya kepada para santri Ma’had Aly.

***
Ngaji Bareng Gus Baha', di Ma'had Aly Situbondo, 13 Januari 2020

Sumber tulisan:
SUBSCRIBE Channel YouTube Ma'had Aly Situbondo di:
https://www.youtube.com/watch?v=DcgTZEUyvp0

Gus Baha': Tidak Boleh Belajar Tafsir Jalalain Sebelum Belajar Fiqih

Seperti biasa, Gus Baha' nggojlok para santri, kali ini, santri2 Madura. Mereka tak mau kalah dengan Gus Baha'. Gus Baha'  pun tak luput  dari gojlokan mereka, karena mana ada santri Madura mau kalah. 😆

***
Qashar salat itu asalnya dari perang.
Qashar salat itu asalnya dari perang.

SUPAYA TIDAK TERJEBAK TEKS

Menurut saya, tradisi guru2 kita sudah benar: orang tidak boleh belajar tafsir Jalalain sebelum belajar kitab fiqih:
1. al-Mabadi al-Fiqhiyah
2. Fiqih shalat
3. Sullam Taufiq
4. Sullam Safinah
Supaya tidak terjebak tekstualistik.

Sekarang termasuk fitnah besar. Orang belum belajar apa2 langsung belajar tafsir.

MENGKAJI TAFSIR MENGAJAR FIQIH

Saya ini dipandang sebagai ahli tafsir, tapi belum pernah saya membaca tafsir secara masif.
Setiap kali saya mengajar tafsir, saya pasti mengajar fiqih.
Saya masih mengajar:
Al-Muhadzab
Fathul Wahhab
Bahkan Sullam Taufiq, kitab fiqih terkecil pun masih saya ajarkan.
Saya mengaji tafsir hanya dua minggu sekali. Itu pun saya pasti membicarakan fiqih, karena khawatir orang hanya bicara tafsir tidak bicara fiqih.Khasnya saya mengaji tafsir itu pasti bicara fiqih. Makanya Prof.Quraish Shihab mengagumi saya karena selalu bicara fiqih saat mengaji tafsir. Karena nggak kebayang kalau tafsir itu tidak dikawal dengan fiqih.

MENGKAJI FIQIH, HARUS MENGKAJI LUGHAT

Kalau mau mengkaji fiqih, maka harus mengkaji aturan2 lughat. Saya mengkaji kitab fiqih itu banyak:
Lubbul Ushul
Jam'u al-Jawami'
Di separuh akhir kitab itu pasti ada pedoman lughat. Karena nggak bisa mengkaji ushul fiqih tanpa tahu aturan2 lughat. Ilmu itu didpatkan dari Al-Quran, sedang Al-Quran adalah  lisanul a'rabi
Jadi pastikan alim fiqih dulu. Kalau fiqih sudah dipastikan, baru kamu ke lughatul a'rabi, atau saya bahasakan lisanul a'rabi.
Nanti tafsir/menakwil Quran pasti mudah. Artinya kamu bisa memaknai karena keahlian dalam fiqih, sehingga kamu tidak terjebak tekstualistik. Jika fiqih hapal, lafadz alquran yang muhim (membuat salah cipta) pun akan bisa paham.

https://www.youtube.com/watch?v=imbKFY8hU6Y

Gus Baha': Ini Penting Saya Utarakan

"INI PENTING SAYA UTARAKAN"

Mengapa tidak SELATAN-kan? Ini selingan saja, nggak usah serius 😆


PEMAKAIAN DAN ETIMOLOGI

Pemakaian "utara" vs "selatan" 
Ada budaya2 - termasuk budaya Nusantara - yg hanya memakai orientasi dua arah (berdasarkan letak geografisnya):
misal: 
arah Gunung/Darat vs Laut  
(budaya pulau2 daerah timur Indonesia masih kental sekali dengan orientasi ini: misal di Seram, Bali)
lor vs kidul
Masyriki vs Maghrib 
Keunikan dua orientasi ini. 
Di Jawa:
arah Lor (arah laut, lwar, akhirnya menjadi ke luar) vs Kidul (kidwal, kedol, kedual, ke jual/ke perdagangan/arah darat, akhirnya menjadi dalam?)
bentukan ini bisa jadi terbalik
Gus Baha': "Ini Penting Saya Utarakan"
Gus Baha': "Ini Penting Saya Utarakan"

Misal di Bali:
arah kaja (menuju gunung) vs kelod (menuju laut, lod dalam Jawa Kuno artinya laut)
orientasi (dunungnya) adalah Gunung Agung 
Maka bagi orang Bali bagian selatan, kaja adalah "utara"
Tapi bagi masyarakat Bali utara, kaja adalah "selatan"
kelod sebaliknya

Uttara berasal dari Ud-tri+a, artinya menyeberang, atau melewati

Mungkin pemakaian kata utara berkaitan dgn itu.


BENTUKAN

UNGKAPAN yang sama bentuknya:
"meng-utara-kan"
"meng-ke-tengah-kan/mengetengahkan" 
"meng-ke-muka-kan/mengemukakan"
"meng-ke-depan-kan/mengedepankan"
dll


MAKNA

Ungkapan "mengutarakan" ini mengandung arti "membuat sesuatu menjadi (di) utara", "mengirim/membuat sesuatu ke utara", "menyampaikan/membuat sesuatu jadi sampai"
 Dengan demikian, juga mengandung arti "meletakkan sesuatu pada tempatnya"
Ada makna "adil" di situ, yaitu "meletakkan segala sesuatu pada proporsinya/tempatnya"
Ungkapan bahsa Jawa yang mengandung makna "adil" mirip dengan kata "mengutarakan" adalah "ndunungke" atau "mrenahke".

Kamus Jawa Kuna-Indonesia karangan Prof. Zoetmulder menyebutkan entri sebagai berikut:
utara*
aŋutara, inutara: membawakan, menceritakan
sebagaimana 
dalam Kidung Harsawijaya (C.C. Berg 1931):
menmen amacaŋah sumelan aris lagy aŋutara basa ramya niŋ tontonan ran paligaran
dalam Tantri (Demuŋ):
lan utaranen si pukulan


RELEVANSI

Pembahasan di atas banyak ngawurnya. Pembahasan ngawur di atas hanya untuk menunjukkan bahwa betapa susahnya "mrenahke" suatu kata yang kita pakai sendiri. Apalagi bahasa yg dipakai Al-Quran. 

Gus Baha' menjelaskan bagaimana Imam Suyuthi menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terjadi pada zhahirnya ayat. Imam Suyuthi mengurai ayat-ayat yang zhahirnya bertentangan (tanaqudh) dalam kitab Al-Itqan bab muhimilikhtilaf (sering dipelajari berulang-ulang oleh Gus Baha').

***

PEMBAHASAN BAB MUHIMIL IKHTILAF

Jadi apakah bahasa yang kita kenali sekarang ini bahasa yang sama dengan dikehendaki oleh Allah? Kita tidak pernah tahu.
Misalnya:
"ustadz juga manusia" vs "ulama fasih yg tidak terpengaruh siapa penonton yg di hadapannya yg pikirannya hanya nadzarnya gusti Allah swt". Yang mana?
inna sa'ata qorib, "dekat"nya hari kiamat vs "dekat" dalam bahasa kita sekarang. Kapan dekatnya? Kita dengan utek dan ati elek akan bilang "mulai dari dulu kyai ngomong dekat. sampai sekarang juga tidak kiamat." Kita merasa janggal sebab kita merasa 80 tahun, 100 tahun, 1.000 tahun itu lama.
Nah Jangan-jangan kita memaknai Quran dengan kedengkian dan keterbatasan itu? (Atau dengan kejahilan seperti yang saya lakukan spt ilustrasi di atas.)

Maka ketika ditanya siapa yang paling berpotensi keliru? Ya orang khusyu'. Orang khusyu' klo husnudzan pada guru, maka berarti anut guru, yang artinya tanpa pembanding. Jika ia husnudzan kitab juga anut satu kitab saja, tanpa perbandingan. Apalagi jika percaya kesalehannya (seseorang) saja, tambah keliru lagi.

PENTINGNYA KONTROL ILMU DAN SANAD 

Sehingga memang dalam hal agama, ilmu itu tidak boleh dikawal orang khusyu'. Ini ilmu lho ya! Masalah ilmu!
Kalo orang shaleh, tetap saya cucup (hormati), tapi klo anut fatwanya emoh. Bahaya!. 😆
Masyhur, Imam Malik sangat hormat pada 100 orang Madinah. Tapi ketika ditanya, "Mengapa engkau tidak mau ngaji pada orang yang engkau hormati?"
"Mereka orang shaleh, tapi bab hadits, mereka bukan ahlinya."
Problem orang sholeh adalah suatu ilmu dianggap dan dibikin gampang. Punya mbahmu apa, elmu kok dibikin gampang!
Ilmu itu butuh kontrol, butuh kompetisi, butuh diakui satu kesepakatan para ahli.
Makanya masyhur Imam Malik berkata, "Saya tidak fatwa sebelum 70 orang alim Madinah bersaksi bahwa saya orang alim. Saya nggak berani."
Lha zaman sekarang ini, saksi kok MC belaka dengan ucapan "shohibul fadhilah"?? Itu saja entah bersaksi beneran entah prosedural semata. 🤣
Dulu itu ulama diuji!
Imam Bukhari pertama menjadi ahli hadits ya karena barokahnya orang-orang dengki. Ketika terkenal ahli hadits hidup di Madinah pulang ke Baghdad, 100 ahli hadits mengubah sanad. 100 sanad dibolak-balik, diubah-ubah. Semuanya alim bersaksi. Dan setiap ditanya hadits itu beliau jawab, "la adri (tidak tahu)".
Setelah 100 ulama dijawab la adri, maka pengujinya berkata, "Sekarang giliranmu bicara, ya Muhammad (bin Ismail)."
Jawab beliau, "Hadits yg ini sebagaimana yg ini dan ini, itu saya nggak tahu. Yang benar yg saya tahu begini dan begini."
Jadi urut. Jadi ahli hadits itu terang dan jelas benar. Misalnya begini. Orang tahulah misalnya sanad saya:
Saya ngaji Mbah Moen,
Mbah Moen pernah ngaji Mbah Karim Lirboyo
Mbah Karim pernah ngaji Mbah Hasyim Asyari
Mbah Hasyim ngaji Mbah Faqih Maskumambang
beliau pernah ngaji Mbah Mahfudz.
Itu bagi ahlinya kan urut. Lalu sanad itu dibalik!
Misal:
Mbah Moen ngaji Mbah Mahfudz.
Mbah Mahfudz ngaji Mbah Zubair.
Ahlinya kan langsung tahu klo dibolak-balik.
Lha besok lusa trus sanad saya dibalik: Gus Baha' mengaji ke (kyai) Thoha? Waduh, musibah kubra nanti. 😆
Lha iya, INI MISALNYA LHO!
nanti kebolak-baliknya zaman, mentang2 (kyai) Munif berewok, terus saya dibilang ngaji (kyai) Munif.
Yakin bumi langsung gempa! Gak trima, yakin gak trima. 😆

***

Sepenggal pengajian Gus Baha' dalam file "26 Des 11.17 AM" (yang saya telusuri ayatnya pakai Mbah Google ternyata adalah Tafsir Jalalain Al Maidah ayat 109 dst)   

(jembare dadane Gus'e, alarm salah satu HP perekamnya bunyi berisik sekali, beliau tetap fokus ngaos. Saya yg dengar rekamannya saja terganggu sekali. 😆) Sampun riyin.